Selama Bandung tetap menjadi Bandung, akan terus ada Cizz cake yang melengkapi senyum, kemacetan Cihampelas yang melenakan anak kecil untuk menempelkan wajah ke kaca mobil, daun-daun berguguran Jalan Diponegoro yang mengisi sela tawa dua orang yang berboncengan, gemerlap lampu jalan layang Pasupati yang mewarnai malam temaram, dan kabut tipis yang meromantiskan dingin pagi. Serta canda sederhana diantara semuanya.

“Aku pernah dengar Ridwan Kamil ceramah, di masjid dekat kosan waktu Ramadhan kemarin.”

Mulutnya melepaskan diri dari sedotan. Badannya condong menunggu kalimat lanjutan.

“Katanya banyak seniman yang lahir di Bandung”, saya mengambil jeda sebentar, “karena udaranya dingin.”

“Lah, hubungannya apa?”

“Soalnya dingin bikin orang melamun.”

Dia tertawa. Saya tertawa. Di hadapan udang asam manis yang akan terasa semakin manis setelah ini, kami tertawa.

Buatlah dia tertawa untuk menjatuhkan hatinya. Namun bagaimana jika ternyata malah saya yang jatuh tak berdaya mendengar tawanya?

Ketika bertemu seseorang yang menawan, lalu membayangkan masa depan yang belum tentu milik kalian, dunia akan perlahan berantakan. Kau akan berkali-kali memeriksa kunci pintu, tenggelam lebih dalam saat berdoa, menyisir rambut lebih simetris bahkan saat tidak bepergian, sampai rela digigit dingin sambil terpekur di genteng menatap rembulan. Melagukan sendu, melegakan rindu.

“Diminumnya dua kali sehari ya. Tapi hati-hati, aku habis minum obat itu pasti langsung tewas.”

Kami beriringan keluar dari apotek. Saya memperhatikan tablet warna-warni yang baru dibelikannya, sambil mencuri pandang ke arahnya yang tersenyum sendiri.

“Tapi aku masih flu baru-baru kok.” Saya mengatakan apa pun yang terlintas untuk mengisi udara.

“Demam gak sih?”

Saya tidak menjawab, hanya menatap ke atas, mengiba, berusaha dan berdoa sekuat tenaga untuk tidak memerahkan wajah dan telinga akibat tangannya yang meraba.

Di kota ini, perasaan mudah mekar layaknya bebungaan halaman depan ITB di Agustus yang warna-warni. Harapan lekas bersemi seperti taman kotanya yang asri dan ber-wifi. Ucapan dan pesan pertemuan muncul mendadak seperti suasana langitnya yang kerap berganti. Impian bersinar seperti kerlip lampu kotanya, sinarnya bulat satu-satu seakan manisnya akan memabukkan jika terlalu banyak ditumpuk dalam sekali mimpi.

“Kalau lagi ke Bandung kabari ya.”

“Memang kamu ada di Bandung?” senyumnya.

“Ya aku ke Bandung kalau kamu ke Bandung.”

Dia tertawa. Saya tertawa. Pada malam pekat di parkiran motor yang rapat, kami tertawa. Bersama, untuk terakhir kalinya. Sesak.

Pembaca The Fault in Our Stars tentu tahu Augustus Waters, yang selalu membawa sebungkus rokok, tanpa korek, di kantongnya. Dia senang menyelipkan sebatang nikotin di bibir tanpa pernah dinyalakan. Saya tentu tidak sehebat Augustus Waters yang sanggup melekatkan diri pada benda pembunuh, lalu masih berkuasa terhadapnya. Saya malah menyimpan benda berbahaya di dalam tubuh, bernama perasaan, kemudian terluka karenanya.

Agak gerimis dari langit, bulan tak tampak barang sedikit. Malam itu saya bergegas memacu motor seorang diri, hanya untuk menatap kosong siaran sepakbola di layar TV. Pandangan saya melewati kotak TV, jendela di belakangnya, lalu mendarat ke Tangkuban Perahu yang sedang beristirahat. Dua jarum jam menyatu di langit-langit. Satu dua lampu kamar sebelah mulai padam. Malam kembali ke peraduan. Menggigilkan badan, menggagalkan harapan.

Tuhan, biarkan saya menebak kemana jalan cerita…