Pernahkah tersadar betapa beruntungnya ketika masih ada doa untuk dipanjatkan? Atau betapa nikmatnya saat bangun pagi dan tahu ada yang sedang kita perjuangkan?

Kadang saya memilih menjadi orang terakhir yang meninggalkan shaf shalat berjamaah. Bukan senang doa berlama-lama, tapi karena saya tertarik melihat ragam tingkah laku orang menembus padatnya barisan. Ada yang mendesak untuk keluar duluan, ada yang santai berjalan mencari tangan untuk dijabat erat, ada yang kebingungan memutar langkah karena tidak bisa melintasi orang yang sedang shalat sunah, ada yang berbalik mencari kotak infaq di ujung shaf, karena memang amal baiknya dilakukan dalam hening dan sepi yang paling sepi justru berada di keramaian.

Sama seperti di bioskop. Tidak ada yang mengalahkan perasaan menjadi yang terakhir meninggalkan studio untuk sedikit mengamati. Lampu menyala dan semua menunjukkan keresahannya. Ada yang saling berdebat soal ending cerita, ada yang menerawang ke layar hitam sambil menghabiskan popcorn yang banyak tersisa, karena film terlalu indah untuk dilewatkan meski oleh sebuah kedipan, ada sepasang kekasih yang bertukar tatapan demi mengatakan betapa mereka menyukai kebersamaan barusan meski tidak ada obrolan di dalamnya.

Saya sedang tidak berada di masjid atau bioskop. Jadi obrolan ada di sana-sini.

“Aku juga tidak tahu jalan di depan, yang bisa kau lakukan hanya tetaplah berkomunikasi, berdoa. Dan menunggu.”

Kawan saya menangkupkan kedua tangan. Senyumnya tidak terbaca, antara murni karena saya masih berjuang atau simpati karena akhir cerita tidak terbayang.

Orang di sudut ruangan. Itulah yang sekiranya bisa menggambarkan orang-orang terakhir yang meninggalkan masjid dan bioskop tadi. Tenang namun membaca keadaan. Tidak banyak bersuara tapi pandangan menyapu ruangan.

Saya gagal menjadi orang seperti itu ketika mendengar nasihatnya yang normatif.

“Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kulakukan sekarang. Hanya menjaga komunikasi, berdoa. Namun, aku akan melakukannya selama mungkin.” Saya sendiri tidak yakin apa yang saya katakan.

Motor bersliweran mengisi jalanan, bisingnya saling menindih dengan angkot yang berebutan penumpang. Saya memainkan kotak kacamata di atas meja terpal, memutar-mutarnya di tempat yang bebas dari ceceran sambal. Pelayan datang menanyakan minuman, tubuhnya menghalangi lampu jalan yang sebelumnya mengisi beberapa titik di meja. Kawan saya yang seorang lagi sedang berdiri menjauh, entah ponsel di telinganya itu benar-benar berisi seseorang atau dia tidak tahan mendengar ocehan saya tentang seseorang.

Saya menghembuskan napas panjang, juga dengan kawan di hadapan. Kita sama-sama tahu apa yang akan saya tanyakan kemudian,

“Berapa lama aku harus menunggu?”

Dia tersenyum kecut, karena tidak memiliki jawaban. Saya juga tersenyum kecut, karena teringat sebuah kisah.

Tentang Zainuddin yang menanti Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Tentang mereka yang bersama terjebak hujan, lalu Zainuddin memberanikan diri mengirim surat setelah ikut terjebak kecantikan Hayati, dan berbalas. Begitu seterusnya sampai takdir menyadarkan mimpi dengan menghadirkan orang ketiga. Tentang tubuh kurus Zainuddin yang memilih pergi ke Tanah Jawa untuk meninggalkan kenangan semu, lalu menjadi penyair sukses bermaterikan masa lalunya yang mengharu biru. Berapa lama dia menunggu Hayati untuk kembali berada di dekatnya?

Cukup waktu untuk kapal Van Der Wijck mengubah jalan cerita.

Pernahkah tersadar betapa beruntungnya ketika masih ada doa untuk dipanjatkan? Atau betapa nikmatnya saat bangun pagi dan tahu ada yang sedang kita perjuangkan?

“Jadi, berapa lama harus menunggu?” Saya mengulang pertanyaan yang terhampar di udara.

Tetap tidak ada jawaban disana.