Imam musalla di desa saya kerap keliru melafalkan bacaan shalat. Kesalahannya sederhana, namun terasa sudah melekat di lidah. Termasuk untuk surat Al-Fatihah. Jadi, secara teknis, kesalahan akan terjadi di setiap rakaat. Masalahnya, nyaris tidak ada dari kami yang berani untuk mengingatkan, bahkan ketika shalat, termasuk bapak. Suatu malam, beliau mengungkapkan alasannya, yang bisa jadi mewakili perasaan puluhan jamaah lain. Bapak, yang notabene hanyalah tamu di hadapan warga desa, takut imam tersebut sakit hati, lantas meninggalkan jamaah dan menelantarkan musalla.

Nilai sosial di atas aturan agama.

Apakah si imam, seorang tua kurus dengan sarung dan peci lusuh, benar-benar akan sakit hati?

Hanya dia dan Dia yang tahu. Jika tetap tidak ada yang mengajaknya bicara di sela tasbih zikir, atau mengoreksi di tengah alunan shalatnya, beliau akan terus berada di shaf terdepan ketika azan berkumandang, lalu langsung menuju sajadah imam saat iqamah berlarian.

Kondektur bis kota membalas makian penumpang, seorang renta di pelataran masjid mencari mata menanti disapa, seorang gadis mengakhiri setiap baris pesan dengan emoticon, seorang pemuda menunggu semua lampu kamar mati untuk menulis beberapa baris, seorang pendiam menunggu meja makan ramai ditinggalkan untuk mengobrol dengan seorang pendiam lain.

Ketika melihat perilaku seseorang, kadang saya membayangkan keadaannya saat bangun pagi di hari itu. Lelapkah tidurnya? Apakah Subuhnya khusyuk? Sudahkah sarapannya ditemani beberapa teguk teh dan sapaan dari yang tersayang?

“Aku tidak mau shalat disana kalau dia masih menjadi imam.”

Seorang wanita paruh baya berbicara pada khalayak dan dirinya sendiri. Hentakannya mencairkan keheningan diskusi, lalu membekukan ruang keluarga. Para sepupu tetap bermain tenis meja, beberapa orang tua meneruskan sisa rokok dan kopi, sisanya hanya memandangi kuku kaki. Setiap kepala mencari jawaban dengan caranya sendiri.

Kali ini, nilai sosial yang kalah.

Perdebatan agama dan sosial sulit dicari temunya, karena banyak sudut pandang yang bisa diambil. Mengapa restoran harus melindungi diri dengan tirai panjang saat Ramadan? Mengapa pengeras suara masjid digunakan untuk membangunkan sahur? Mengapa ada pemimpin yang diminta turun karena berbeda agama dengan mayoritas warga?

Tidak bisakah agama dinikmati sendiri? Sebuah hubungan eksklusif antara manusia dengan Sang Pencipta?

Saya jadi ingat pengalaman di SMA dulu. Kawan-kawan yang beragama non-Islam mendapatkan jam pelajaran agama sendiri di Jumat siang. Entah apa pelajaran yang mereka dapatkan, namun setidaknya saya tahu apa soal yang harus mereka kerjakan di setiap akhir waktu: Apa isi khutbah sembahyang terakhirmu?

Kesenyapan yang eksklusif.

Tidak lama kemudian, azan Isya terdengar dari kejauhan. Suara melengking anak kecil melayang di udara, melewati kandang kambing di belakang rumah, menembus uap tungku yang mengubah kayu kering menjadi abu, lalu ke dalam rumah untuk menghentikan tepukan bat tenis meja anak-anak kecil lain. Beberapa berlarian keluar dengan sarung menggantung, sisanya berebutan mengambil wudhu di dua kamar mandi gelap ujung rumah. Para perokok dan peminum kopi masih belum beranjak, seakan punggung mereka tertanam dalam ke sandaran kursi rotan.

Tidak lama kemudian iqamah mulai meraung. Si wanita pemberani sudah sejak tadi menghilang ke dalam kamar, meninggalkan orang-orang di ruang keluarga dalam keraguan.