Tags

You have made me a worse doctor.

Di malam bermandikan hujan dan di gelayutan pengaruh alkohol yang membuatnya semakin membebankan badan pada tongkat di tangan, dia mengatakan kalimat itu pada kekasihnya.

Penikmat serial House mungkin masih ingat dengan kalimat miris itu. Ketika Dokter House menemukan penyebab kegagalannya menyelamatkan nyawa seorang pasien di hari itu. Bukan karena penyakit yang sulit disembuhkan, bukan juga karena kurangnya Vicodin yang ditelannya, namun karena dia telah menjadi seorang dokter yang berbeda. House telah menemukan cinta, dan dia tidak butuh merasa bahagia untuk memecahkan masalah.

Episode itu mengingatkan saya pada Life of Pi, tentang seorang anak 16 tahun yang terjebak di lautan bersama seekor harimau. Badai ganas menghancurkan kapal dan menyisakan mereka berdua dalam sekoci penyelamat. Mayoritas lebih suka melempar pertanyaan, “Bagaimana cara Pi bisa bertahan hidup berbulan-bulan dengan jarak harimau hanya sekelebatan lirikan?”, namun saya lebih senang berangkat dengan, “Pi berhasil membuat rakit lain, lalu sekian badai kecil dan ikan paus menghantam dan rakit Pi tetap selamat. Mengapa dia membiarkan harimau itu tetap hidup?”

Jawaban baru saya dapat pada halaman-halaman terakhir novel. Disadari atau tidak, ternyata sang harimau berhasil mengeluarkan diri Pi yang lain, yaitu takut dengan kematian. Pi harus selalu menjaga diri, awas terhadap segala perubahan keadaan dan tangkas melawan badai yang menerjang, sampai dia sadar, sikap waspada terhadap harimau lah yang menyebabkan dirinya sanggup bertahan berbulan-bulan di lautan.

Mereka, Pi dan Dokter House, membutuhkan depresi untuk tetap hidup dan menyembuhkan pasien. Mereka butuh rival untuk diri sendiri.

Apakah yang mereka lakukan termasuk perbuatan buruk? Ketika mengeluarkan yang terbaik dengan menyakiti diri sendiri?

Entah. Tidak ada jawaban yang benar, karena masalah memang bisa dilihat dari beragam sudut pandang dan kita bisa berdebat panjang terhadapnya.

Namun, saat berhenti sejenak dan melihat sekitar, ternyata banyak tanda tanya serupa yang menggantung di udara. Mengapa orang-orang sukses senang membicarakan masa sulit mereka? Mengapa pujangga butuh patah hati untuk menulis puisi yang mengiris? Mengapa atlet tenis kerap memaki diri sendiri di tengah permainan yang buruk?

Kadang seseorang perlu merasa gagal, entah disengaja atau tidak, untuk memotivasi diri dan mengingatkan kembali posisi mereka sebagai manusia. Pada akhirnya, hamparan frustasi akan membuat mereka menemukan Tuhan. Bisa jadi saat Dia tersenyum.

Akhir kata, selamat menemukan tekanan dan hentakan. Selamat menemukan rival untuk diri sendiri. Selamat menjatuhkan diri lalu lompat berpuluh-puluh kaki setelahnya. Seperti kalimat House di tengah dentingan gelas alkoholnya,

Because love and happiness are nothing but distractions.