Hentakan kaki dan mentol permen penahan kantuk. Tangan saling menyahut berebutan panggung empuk. Diskusi belasan arah yang menyisakan spasi beberapa mulut untuk diam pasrah. Kantong persahabatan pelengkap absensi, penuntun para anonim untuk menitipkan harapan pada kertas warna-warni.

Dalam skala angka yang sepi namun pasti, seberapa tinggikah integritas dihargai?

Mungkin belum setinggi apa yang dilakukan kelompok Jong Ambon dalam permainan merayap di outbound tempo hari. Peserta dengan kain jingga penutup mata, harus merayap sembari menghindari tali rafia di ketinggian lutut dengan dipandu teriakan anggota lain. Menjadi menarik karena keputusan gugur atau tidak berada di tangan tim, bukan panitia.

Kami akhirnya mendapat nilai nol.

Ironis ketika bahkan di permainan kotor-kotoran, kita tetap memelihara melankoli. Jujur atau menang. Kadang hidup hanya berkisar di dua akhir itu.

Saya jadi teringat dengan situasi serupa dalam The Kite Runner. Ketika Ali menaruh jam tangan dan beberapa lembar uang di bawah matras Hassan. Ia yang memiliki masalah dengan anak pengasuhnya itu, memilih memenangkan pertarungan lewat tangan sang ayah. Tangan yang menginterogasi Hassan dan ayah Hassan, tangan yang kemudian berbalik memohon-mohon mereka untuk tidak meninggalkan rumah.

Kemarin saya melihat tangan-tangan serupa ketika mengejar pundak salah seorang kawan unik kami yang ingin meninggalkan ruangan. Tangan yang akhirnya berhasil menahannya untuk bergembira sampai akhir acara. Tangan-tangan yang tergores akibat meniti jembatan besi, yang bergetar karena kurang lelap tidur, yang berkeringat karena beradu cepat dengan detak detik untuk mengetik. Tangan sama yang mengepal kencang ketika diteriakkan kata ‘Indonesia’.

Saya ingin menemani tangan-tangan rapuh itu. Maka dari itu, di malam terakhir sebelum pementasan drama musikal saya sengaja tidur di jejeran kursi auditorium. Tetek bengek urusan properti sudah selesai beberapa jam sebelumnya, namun saya tetap ingin disana untuk menemani. Setidaknya agar teman-teman penampil tahu bahwa mereka tidak, dan tidak akan pernah, sendirian.

Lagipula latihan sampai pagi mereka memang layak ditonton dan diapresiasi. Bukankah bekerja keras merupakan wujud syukur terbaik?

Banyak yang saya dapatkan selama bersama PK-20 LPDP. Salah satunya adalah bekerja keras. Masih terekam jelas bagaimana merah darahnya mata kawan-kawan seangkatan, entah siang, terlebih malam. Rancangan seni kontemporer yang terus berganti sampai menit-menit terakhir, berjualan barang daur ulang yang memaksa setiap orang menjadi extrovert, resume harian dengan kejelasan manajemen anggota, belum lagi upacara yang mengagendakan nol persen kesalahan.

Indonesia adalah niscaya di ruang auditorium seminggu terakhir. Indonesia yang percaya dan menyala. Pemuda Indonesia memang ditakdirkan untuk terus berjuang sejak awal kehidupan. Masing-masing dari kami yang sudah selesai dengan diri sendiri, menggantungkan mimpi pada goresan pena dan kata-kata di udara.

Tidak ada yang ingin berpisah dengan kadar optimisme seperti itu.

Seperti saya di Sabtu siang itu. Bus menuju Bandung sudah menunggu, tas-tas kotor sudah memenuhi bagasi, tapi saya memilih berlama-lama di ruangan bersama yang lain. Saya jabat tangan mereka satu per satu, mengucapkan terima kasih untuk semuanya. Menepuk pundak, menukar tawa. Saya membalikkan badan dengan tas di bahu kanan, melihat terakhir kali ke ruangan yang mulai ditinggalkan orang-orang. Kursi berhadapan menjepit karpet hijau, bendera merah putih dan LPDP menepi di sudut panggung. Seakan saling bertanya kapan 121 orang PK-20 akan berkumpul bersama lagi.

Sukses untuk kawan-kawan dimanapun mengepakkan sayap. Saat ini dan selamanya, kita adalah Garuda Emas Indonesia.

Logo PK-20PK-20! Garuda Emas Indonesia!!

LPDP! Pemimpin Pemuda Bangsa!!

Indonesia! Jaya! Jaya! Jaya!!!