Langit bersih membebaskan benderang rembulan. Gerimis yang tak lagi ada memancing para pengendara untuk saling membelah di jalanan satu arah. Riuh di luar, juga di dalam cafe. Guyonan dilempar, asap rokok beterbangan, denting cangkir bergema. Kami duduk di keremangan tersudut. Berbicara tentang mimpi dan hal-hal di sekitarnya.

“Aku punya batasan. Jadi aku memilih bergerak dari jalur akademisi.”

Saya angkat cangkir perlahan, menghangatkan sepetak meja dengan sorotan lampu jalan dari kejauhan. Saya merasai caramel macchiato hangat yang menyentuh bibir cangkir. Menimang komposisi pada pahitnya, sembari menunggu kalimat lanjutan dalam diam.

“Mereka biasa memakai rok pendek, Re. Bahkan pegawai hotel. Aku bisa mencari jalan lain.”

Selalu menyenangkan membicarakan masa depan. Ketika dadu ketidakpastian digulirkan dan harapan digantung setinggi awan. Waktu terasa rapuh seperti plastisin meski esok senja yang sama akan terjaring.

Berbicara ketidakpastian mengingatkan saya pada The Lunchbox. Film hening nan puitis itu berkisah tentang obrolan dua pribadi asing melalui kertas yang dititipkan di kotak makan siang. Mereka saling mengenal ketika berdebat tentang pedas dan asin yang tak terukur lidah, solusi mengambang atas masalah masing-masing, dan spasi kereta yang menjadi sesak di hari tua. Ketidakpastian makin meningkat ketika janji makan siang diagendakan.

Pertemuan yang digariskan untuk saling menyemangati satu sama lain.

“Menurutku, kamu masih bisa bekerja di bagian depan. Mukamu kan menjual.”

Dia tertawa. Saya juga tertawa, kecut.

Menjual. Saya mengutuki diri sendiri yang tidak mengatakan ‘cantik’, tidak biasanya. Saya mengaduk minuman di hadapan. Menenggelamkan pandangan dan makian dalam gelapnya yang kelam.

“Gak sayang gambarnya jadi hancur kamu aduk gitu?”

Saya hanya tersenyum, tidak tahu jika lukisan kopi dibuat lebih dari sekedar objek kamera. Atau memang wanita pariwisata saja yang ketagihan menjaga keindahan dalam segala hal?

“I’m a tea person, actually.”

“Lah, tadi kenapa mesen kopi?”

Saya kembali menyeruput cangkir, demi makin mengaburkan cetakan di permukaannya. Aroma karamel memenuhi jeda hidung. Pikiran yang lega meyakinkan saya untuk menjawab pertanyaan dengan tanda tanya lain.

“Kamu mau jadi dosen?”

Kaki kanannya menyilang di atas sembari memangku tas. Tubuhnya miring kiri, menghadap keramaian cafe, membelakangi badan pesawat yang lewat hendak mendarat. Kini kami sempurna saling bercermin. Kenyamanan sedang menyelimuti.

Dia menyesap beberapa teguk dari sedotan, mengangguk, lantas bercerita panjang tentang apa yang bisa dilakukannya untuk pariwisata Indonesia melalui pendidikan. Tentang riset, tulisan, dan perubahan. Tentang apa yang telah, akan, dan tidak bisa diperbuatnya.

Saya mendongakkan kepala, sedikit lama. Ingin memastikan mana yang lebih bercahaya, angannya atau purnama.

Malam yang semakin larut memudahkan pikiran saya untuk berlayar kemana-mana. Termasuk pada hal yang sejak tadi kami bisikkan ke udara, mimpi. Apa mimpi saya untuk bangsa? Ingin dikenang sebagai apa saya nanti?

Apakah sebatas pria dengan jadwal kerja dan macet reguler?

Pertanyaan yang belum menyapa jawabnya sampai penghujung malam. Ketika last order ditanyakan dan satu per satu pengunjung meninggalkan meja dalam kesendirian.

“Thanks for being my partner ya!”

Kata-katanya menyadarkan saya dari lamunan. Kepalan tangan kami saling menubruk, salam diucapkan, dan penutup helm diturunkan. Saya memacu motor menembus gigitan dingin Bandung. Kencang. Tanpa peduli pada tipisnya kemeja yang membentengi badan, agar angin malam menghukum jiwa di dalamnya. Jiwa yang, bahkan sampai lampu kamar padam dan musik berputar mengisi kesenduan, masih belum mampu melemparkan mimpi tertingginya ke bintang gemintang.