Bagaimana jika. Kenapa tidak. Kok gitu. Kenapa sih.

Biasanya saya tidak tahan dengan dua kata pendahulu komplain itu. Tapi tidak dengan dirinya tempo hari. Ketika tanya dan suara bersenggama di udara.

“Bagaimana jika ternyata seseorang yang kamu kenal bukanlah dia yang selama ini kamu kenal?”

Saya mengisahkan sebuah pengalaman. Pada curhat seorang kawan yang meyakinkan bahwa abu-abu itu ada. Tentang tangis yang nyaris menyamai gerimis, kibasan peluh di pelipis, telapak tangan yang membenamkan wajah, dan asap rokok pengeksekusi malam. Saya menutup cerita dengan,

“Kalau perasaan terlanjur dalam, seharusnya itu tak mengubah keadaan.”

Pelayan berkacamata mengantar pizza pesanan. Saya turut menyiapkan meja, menuang sambal di piring tebal, membagi tisu untuk berdua. Sengaja mengambil semua peran untuk meninggalkannya dalam tenang. Demi tenggelam pada kenangan.

“Kami biasanya duduk di sofa ini, Re. Aku dan dia, dulu.”

Saya merasai sofa yang dimaksud. Berusaha menikmati empuknya di tengah goncangan pengunjung di belakang yang sepertiga waktunya adalah untuk mengubah posisi duduk. Kami langsung berbatasan dengan dinding kaca pemisah lorong di luar. Awan penghujan menyekik langit. Beberapa lampu lorong menyala, dipaksa bercahaya di luar jam kerja. Orang-orang hilir mudik mengisi sepi dan spasi. Kami dan mereka saling bertukar mata, entah siapa menonton siapa.

Setelah menyedot beberapa dari gelas bening, dia menjawab tanyanya sendiri.

“Aku tahu rahasia terkelamnya, dan makin sayang kepadanya. Gawat, bukan?”

Saya ikut teriris mendengar tawanya yang miris. Mata itu menyipit ketika dia tertawa, lensa kontak memendarkan cahaya lampu di relung gelapnya. Tanya darinya merupakan teka-teki, sekaligus kunci. Darinya, saya mengerti kejujuran ternyata bisa dihargai setinggi ini.

Tulus yang berharga mengingatkan saya pada cerpen Kota Tanpa Kata dan Air Mata. Berkisah tentang seorang wanita yang takluk oleh rindu setelah mendapat janji untuk bertemu. Pesan teks itu membawanya melewati stasiun, bis kota, dan jalan yang sepi oleh kata dan suara karena semua orang memilih berbicara pada ponsel di tangan. Disana, kejujuran dan keresahan tidak lagi tampak. Pun dengan pria yang mengiriminya pesan saat mereka duduk berdua.

Paket data ponsel sengaja saya matikan ketika itu, jadi tentu obrolan kami terus berpacu.

“Lagi dekat dengan seseorang, Re?”

Saya meminum dua teguk, tidak menyahut. Lidah saya lebih sibuk menebak berapa bagian melon yang dihancurkan untuk segelas ini. Toh dia akan melempar pertanyaan kedua.

“Menurutmu, apa sih yang membuat seseorang menarik?”

Cinta ya karena cinta. Kalo pake ‘karena’ itu namanya hitung-hitungan.

Kalimat Sujiwo Tejo di atas mendadak terlintas. Buru-buru saya telan ketika sudah sampai ke ujung ucapan. Luar biasa picisan. Klise seperti itu biarkan saja tetap hidup di cerita fiksi.

“Karena aku mudah membuatnya tertawa. Kamu?”

Dia tertawa, mata itu kembali bercahaya, tampak mengerti sebuah rahasia. Saya membayangkannya yang lelah menyelami blog ini, lalu dengan mudah menemukan sesosok wanita yang bersemayam di sebuah tulisan. Saya mengusap hidung, menyembunyikan bibir yang tersungging malu.

“Dia bisa mengikuti pertanyaanku. Bahkan saat kuajak ngobrol hal absurd tentang antariksa, filosofi hidup, dimensi, dan waktu.”

Lalu saya membayangkan akhir Kota Tanpa Kata dan Air Mata berupa tokoh wanita yang meninggalkan sang pria untuk bertemu dengan nenek asing di stasiun kota. Mereka berbincang dengan suara dan mata tanpa ponsel di telinga. Berdua membicarakan bunga rumput, mimpi nanti malam, dan segalanya sampai lupa waktu.

Lalu saya membayangkannya, si wanita dengan pertanyaan, membicarakan apa saja dengan pria pujaannya pada sebuah masa yang telah lalu. Di sofa tempat kami bertatap muka sekarang. Melapis waktu, melepas sendu.