Bagi saya, ibu adalah keheningan. Salah satu pesan ibu yang terus terngiang juga merupakan obrolan kami di sebuah malam muram.

“Rajinlah membaca Al-Quran agar lebih tenang saat berbicara.”

“Kenapa?” Saya bertanya padanya, juga pada-Nya dalam hati.

“Membaca tajwid yang panjang-pendek akan melatih napasmu.”

Ibu menutup jawaban dengan senyum. Kerut di tepi mata lelah itu sedikit bercabang. Melengkapi senja di wajahnya yang makin jingga oleh uban di sejumput rambut.

Bagi kalian yang pernah bertemu pasti tahu apa maksud ibu. Saya kadang berbicara terlalu cepat. Beberapa menyatakan saya melakukannya tanpa jeda. Seorang guru IELTS sampai melepas kacamata dan memejamkan kedua bolanya saat mendengar celotehan saya.

Speaking kamu bisa dapat 6.5, asal bicaramu diperlambat.” Katanya berkelakar suatu waktu.

Baginya, saya adalah pelari halang rintang yang tidak pandai mengatur ritme ketika akan melompat. Bagi ibu, saya adalah pelari maraton yang makin berjingkrak saat menjauhi garis bertolak.

“Kapan kamu pulang?”

Adalah pertanyaan yang kerap ibu lempar dari seberang telepon. Sejak kuliah sampai sudah lulus, saya kerap menjawab tidak tahu. Lalu dua detik setelahnya selalu menemukan alasan untuk bertahan di perantauan. Entah Bandung atau Jakarta.

Saya ingat kali terakhir berada di rumah, sekitar September, ketika saya memberi jawaban masa depan yang dinantikan begitu lama. Sebuah beasiswa. Ibu yang berada di kantor ketika itu menjawab pelan alhamdulillah, lalu disambung dengan pelukan panjang ketika ibu pulang ke rumah.

Ah.. Ibu yang sudah puas dengan pelampiasan syukur sederhana. Ibu yang tidak pernah tertekan menghadapi anaknya yang tidak kunjung dijemput kerja. Ibu yang tidak pernah mengeluh meski saya jarang menuruti nasihatnya untuk shalat malam dan berpuasa sunah. Ibu yang tidak pernah menuntut, walau ia akan terus berkorban sepanjang jalan.

Di salah satu telepon terakhirnya, ibu mengatakan sebuah kalimat yang mencabik-cabik malam saya di Bandung,

Bapak tadi nanya, kamu mau pulang kapan?

Ironis ketika bahkan ibu harus meminjam mulut bapak untuk menanyakan hal yang kerap ia tanyakan. Pandangan menjadi kabur ketika itu. Mendadak sketsa rambut dan kerut buram terlintas. Menandakan sejumlah tanya dan doa yang telah terlewatkan.

Musik di laptop saya hentikan, lalu mengurut kening sedikit dalam. Berharap ibu tidak menyadari jeda yang lebih lama dari biasa. Senyap. Bukankah dengan ibu semuanya menjadi hening?

“Kapan kamu pulang?”

Ibu mengulang pertanyaan yang ternyata belum saya jawab. Kenangan memang menghanyutkan.

“Habis selesai urusan visa, Bu. Insya Allah akhir bulan ini.”

Saya menyerah. Semoga kalimat sederhana ini bisa menjadi kado untuk ibu. Sudah saatnya saya kembali ke pelukan rumah. Untuk tenggelam sebentar dan pergi lebih jauh di Februari nanti. Ah, Bu, maafkan kelakuan anakmu ini.

Selamat ulang tahun, Bu’. Semoga diberi kesehatan, rezeki, dan ketentraman dari Allah. Semoga apa yang Ibu lakukan bisa menginspirasi. Tetaplah bercahaya di usia senja!

Dari anakmu yang jarang pulang