Dengan segala kerumitan emosinya, cerita detektif yang baik selalu mampu menggambarkan manusia dalam bentuknya yang utuh.

Pada sebuah masa, saya menemukan itu pada Hercule Poirot. Agatha Christie kerap berhasil menyodorkan sisi kelam manusia di setiap novelnya. The Murder of Roger Ackroyd, misal. Disana, Poirot berhadapan dengan para tersangka yang berbohong. Bukan untuk menyesatkan si detektif berkumis, namun memang manusia selalu punya agenda pribadi.

Detektif Cormoran Strike dalam The Silkworm menyajikan kemuraman yang lain.

20150114_195627Pencarian novelis yang hilang, Owen Quine, membawa Cormoran Strike menghadapi pembunuhan paling sadis yang pernah dia temui. Brutal, tapi rapi. Kasar, namun nyaris tak bercelah. Penyelidikan membawanya pada beberapa orang yang disebutkan secara tersirat oleh sang novelis di transkrip Bombyx Mori — novel cabul yang membagi publik sastra Inggris dalam dua macam sikap, menghujat atau memuji atas nama kebebasan sastra.

Para subjek yang menjadi tokoh di Bombyx Mori, yang lantas menjadi tersangka dalam versi Detektif Strike, jelas menjadi gerah. Interogasi berwujud wawancara yang dilakukan Strike menenggelamkannya dalam beragam karakter menarik. Mulai dari kegugupan pemilik penerbit Daniel Chard, asap rokok dan umpatan Elizabeth Tassel, omongan meracau Jerry Waldegrave si editor pemabuk, keangkuhan penulis terkenal Michael Fancourt yang sudah lama bermusuhan dengan korban, lalu Kathryn Kent, selingkuhan Owen yang menginterpretasi Bombyx Mori secara berbeda, sampai Leonora Quine sang istri cuek namun rapuh yang membawa Strike pada kasus ini.

Strike harus memecahkan kasus dalam senyap untuk menghindari konfrontasi dengan Kepolisian Metro, sosok yang berhasil dipukulnya pada kasus Lula Landry. Penyelidikan menjadi semakin menarik ketika penulis, Robert Galbraith a.k.a J.K. Rowling, memunculkan satu per satu konflik pribadi Strike yang timbul tenggelam. Bagaimana tungkainya yang buntung akan menghambatnya ketika menjejak salju? Apakah Robin Ellacott akan diberi peran lebih dari sekedar sekretaris dan operator telepon? Bagaimana kabar Charlotte, si tunangan yang terakhir telah memberi kebohongan terburuk dalam hidup Strike?

Membaca The Silkworm, berarti ikut menyelami kerumitan seorang Cormoran Strike yang kesepian, gelisah, dan sakit. Deskripsi itu diperkuat dengan hadirnya latar London bulan Desember yang gelap dan menyedihkan, seperti mayat Owen Quine. Diselingi bercangkir-cangkir teh panas, asap rokok, dan beragam cafe yang digambarkan dengan detail, saya seakan langsung merasakan sendiri sensasi pengintaian yang dilakukan Strike.

Dingin yang menggigit tidak menghalangi langkah tertatih, literally tertatih, Strike untuk mengungkap kebenaran. Bahkan di bawah gelap salju jugalah ia membeberkan hipotesis yang akan memporak-porandakan tebakan pembaca. Setidaknya saya.

Gramedia menerbitkan The Silkworm dengan kualitas terjemahan yang sangat baik, ditambah dengan kutipan bernyawa di setiap awal bab yang diterjemahkan oleh salah satu penulis favorit saya, M. Aan Mansyur. Terjemahan disini menjadi penting karena ada banyak dialog dengan para tersangka yang harus diperhatikan lekat-lekat, well jika Anda juga senang menebak-nebak si pelaku.

Robert Galbraith menuliskan karakter detektif dengan warna yang berbeda. Hasrat, gairah, dan ketegangan yang, menurut saya, lebih emosional ketimbang Sherlock Holmes. Saya sangat merekomendasikan The Silkworm, juga The Cuckoo’s Calling tentu saja, untuk pecinta novel detektif di Indonesia. Masih banyak konflik pribadi Strike dan Robin yang bisa digali. Saya sangat menantikan kisah Cormoran Strike selanjutnya.