“Orang miskin difasilitasi pemerintah. Diberi tempat tinggal. Pensiunan dapat dana bantuan rutin. Pajak jelas kemana. Gak kayak Indonesia.”

India sudah berhasil mengorbitkan satelitnya di Planet Mars. Seorang kawan di Finlandia memamerkan teknologi wireless charging. Dan kita masih sibuk mengutuki kampung halaman untuk mengisi obrolan makan siang.

Dia tertawa mendengar kalimatnya sendiri. Saya tidak, lantas meneguk gelas untuk menyembunyikan. Aroma air ledeng yang tak beraroma beterbangan di hidung. Jemari keriput mengusap kepala botaknya, menyapu uban yang tersisa di tepian. Setelah darinya, mata saya hinggap pada jam elektronik di dinding seberang. Mengejar angka yang berlarian membawa waktu azan, yang pasti akan berbeda dengan esok, lusa, dan seterusnya.

Angka itu tidak lagi berlari, hanya berkedip. Nomor antrian. Saya tersadar sedang duduk di KJRI sekarang. Saya mengambil kacamata di kerah baju, menajamkan nyala merah digital itu. Masih empat orang lagi. Ada tiga loket, namun hanya satu di tengah yang terbuka.

“Sudah berapa lama disini?”

Seorang wanita di tiga kursi sebelah menyapa. Cantik. Senyumnya membawa saya ke hiruk-pikuk café di Pacific Place. Suaminya yang bertopi ikut tersenyum, namun tidak berusaha melepas tangannya yang menyilang dada.

“Baru sepuluh hari. Saya mau lapor diri.”

Obrolan berlanjut, mengiringi orang yang keluar masuk pintu otomatis KJRI. Membawa udara musim panas di tengah pendingin ruangan yang payah. Saya bicara perihal kota yang sepi. Dia bercerita tentang festival kota yang menanti, serta waktu. Tentang delapan tahun terakhir yang dihabiskannya di Perth. Tentang lambatnya pengurusan paspor di Jakarta. Serta perbandingan antara keduanya.

Orang Indonesia di kota ini adalah para petualang yang tidak rindu kampung halaman.

##

Saya menyusuri jantung kota selepas dari KJRI. Melangkah di trotoar lebar Adelaide Terrace, melewati halte bus yang dipasangi poster Fifty Shades of Grey dalam kaca, tersenyum ke beberapa yang duduk memangku buku di bangku kayu. Di persimpangan ketiga, saya belok kiri turun ke Swan River. Sembari mendongak ke deretan jendela kamar hotel, entah berapa dolar untuk menebusnya demi menikmati biru sungai dari ketinggian.

Swan River adalah ikon Perth dalam berbagai rupa. Tubuhnya membelah kota dengan kejam, memaksa warga bagian selatan hanya duduk menonton kilau lampu gedung-gedung bertingkat di sisi seberang. Seperti mimpi. Namun ketika langit cerah, gemericik tenangnya menemani mereka yang bermain cricket atau sekedar pesta barbecue di taman sepanjang sisi sungai.

Di salah satu taman, saya beristirahat setelah berjalan cukup lama. Menikmati sungai yang mengalir jauh sampai Samudera Hindia di barat. Sampai palung ingatan.

Namun tidak dengan ingatan di kepala. Waktu berputar, deadline tugas kuliah terus mengejar. Saya hampir lupa semua ironi masa lalu, sampai kemarin siang ketika seorang kawan mengantar pulang. Entah mengapa, saya menanyakan pertanyaan klise itu.

“Pulang,” jawabnya sambil memperhatikan lampu lalu lintas yang dipasangi kamera, “Indonesia lebih butuh aku.”

Terdengar heroik, saya hanya tersenyum. Lalu dia membetulkan kalimatnya.

“Tak ada yang bisa dikejar di sini.”

Ucapannya terhenti. Saya menunjuk ke kanan, minta dibelokkan. Dia mengerem, menunggu dua mobil lain melintas. Tanpa klakson, dan memang nyaris tidak ada klakson di jalanan. Kecuali Anda sangat ngawur merampas jalur lain.

“Maksudnya?”

“Di sini, uang memang bisa dicari. Tapi tidak untuk rohani dan ketenangan jiwa.”

Saya tersenyum. Setelah mengucapkan terima kasih, saya masuk ke rumah. Tidak berapa lama kemudian, terdengar azan ashar dari jam elektronik. Lukisan ka’bah di dalamnya menyala terang. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali saya sadar mendengar suara panggilan ini.

Rohani. Ketenangan jiwa.

Saya kangen rumah.