Satu hal yang selalu menjadi ciri novel Andrea Hirata: cinta sederhana. Yakni kisah cinta yang membuat si penderitanya selalu ingin bermain layang-layang, berlari kencang menembus pasar ikan, dan bersemangat untuk sekolah dan bekerja.

Termasuk di novel terbarunya. Ayah.

Di halaman 258, saya menemukan prosa cantik. Dikisahkan oleh seorang anak kelas dua SD dalam lomba bercerita. Di kemudian hari, si anak, Zorro namanya, akan mengerti cinta sederhana pada ayahnya lah yang membuatnya mampu bercerita seindah ini.

**

Tahukah dirimu, Kawan? Langit adalah sebuah keluarga. Anaknya ada dua, Angin dan Awan. Ayahnya adalah Matahari. Ibunya Bulan.

Angin senang berkeliaran sesukanya, memelesat ke selatan, menggoda ilalang, berputar di atas ombak, terlambung tinggi ke angkasa, lalu berpencar ke delapan penjuru. Jika sore, ayahnya, Matahari, memanggilnya dan kita mendapat senja yang indah. Jika malam, Angin tak berembus karena Bulan memeluk anak bungsunya.

Awan adalah anak perempuan yang suka bersedih. Oleh karena itu, manusia bisa mengajak Awan bercakap-cakap. Jika Awan gelap dan manusia tidak menginginkan hujan, Awan bisa dibujuk. Berhentilah sejenak di mana pun kau berada, tataplah Awan dan berbicaralah dengannya agar dia menunggu sebentar saja sampai engkau sampai di rumah.

Akan tetapi, kau hanya bisa membujuk Awan dengan puisi dan puisi itu harus kau nyanyikan. Seperti ini nyanyiannya…

Wahai Awan

Aku ingin sekolah, janganlah dulu kau turunkan hujan

Ajaklah Angin, untuk menerbangkanmu ke selatan

Wahai Awan

Janganlah dulu kau turunkan hujan

Wahai Awan, kuterbangkan layang-layang untukmu