“Are you okay? You don’t look happy.”

Bias aksen Australia-nya disembunyikan senyum yang tak kalah tipis. Mata keibuan itu bicara lebih banyak dari yang ia ucapkan. Birunya meredup, kerut di sudutnya timbul tenggelam. Seperti layang-layang yang dimakan awan.

“Chai latte, please.”

“That’s it? Are you sure it can make you happy?”

Mata itu kembali menenggelamkan. Seperti biru Swan River yang dibuai angin musim gugur, membelah Perth dalam gigil tak bertuan. Ia memencet mesin kasir. Bunyi decit tombol bersaing dengan dengung café. Setelah mengambil gelas, dan tertawa sebisanya, saya beranjak. Saya merogoh kantong, membuka kembali ponsel yang menampilkan web portal kampus. Angka-angka berjejer dalamnya, memikul sepi, memukul ekspektasi.

Saya berhenti, menoleh lagi padanya yang melayani mahasiswa lain. Tidak mungkin saya berdiri lama di antrean untuk menceritakan nilai yang tidak memihak.

**

“Saya mau bayar, kemarin sudah pesan.”

Tak sadar, bahkan tanpa duduk, langsung saja saya mengeluarkan sebaris perintah itu. Si petugas travel sedikit terkejut, lalu tampak profesional mengendalikan mimik. Mungkin dia sudah mengerti benar, penumpang jurusan Jakarta adalah mereka yang tidak punya banyak waktu sisa. Bahkan untuk menyapa.

Saya kembali menikmati wajah tenang berbalut jilbab oranye itu, berharap juga bisa melakukannya. Saya tak handal menyembunyikan penyesalan.

**

“Sopirnya lagi sholat, Mas.”

Tiga malam sebelumnya, seseorang meneriaki saya yang ingin menyimpan tas di bagasi bus. Saya lantas berdiri di keremangan agak jauh, menanti dalam peluh. Menyaksikan rentetan bus lain yang datang dan menghilang, bukan untuk saya. Sepuluh menit, seorang wanita datang menggendong travel bag. Pria itu, yang tadi berteriak, membuka bagasi bus saya.

Ternyata ia kondektur.

**

Di hadapan orang asing, saya bukanlah saya di 2-3 bulan yang lalu. Saya yang mengulum senyum. Saya yang bertukar kabar dan fasih mengucap terimakasih. Baru saya rasakan benar, lingkungan mempengaruhi sikap sebegitu cepat. Tiga malam. Keacuhan si kondektur dan sikap dingin saya ke resepsionis travel. Semoga ini bukan pembelaan picisan.

Ironi. Wanita bermata biru di café Perth dan, well, kondektur bus di gerah malam Semarang.

Teriakan kondektur bus membawa saya pada kotak ingatan lain. Petugas imigrasi, sopir taksi, pegawai tata usaha. Bisa jadi saya sudah menerima ini sejak lama, namun merasa tak ada yang salah. Atau, yang lebih buruk, mata ini baru terbuka.

Saya tidak tahu apa yang ada di benak penjaja jasa di Indonesia. Mungkin mereka kurang diapresiasi, sehingga melakukan hal serupa ke orang lain. Mungkin mereka mencari pengakuan, yang hanya bisa didapat dengan bersikap acuh. Entah.

Satu yang saya tahu. Kadang, Tuhan butuh ironi untuk memberi pelajaran.

**

“Atas nama perpisahan, beberapa membenci pertemuan.”

Mendengarnya, saya menyembunyikan senyum sambil menyedot kayu manis milik choco tea. Wanginya mengingatkan pada chai latte andalan saya di café kampus. Seorang lain tertawa tanggung, nampak tak mengerti awal cerita. Kalimat itu milik saya. Dulu, enam bulan lalu, saat akan pergi dari Bandung. Sekarang ia muncul lagi, juga pada malam terakhir saya di kota ini.

Tuhan sedang bermain ironi. Lagi.

Menjenguk masa lalu. Itu yang sedang saya lakukan seminggu terakhir. Bolak-balik Jakarta-Bandung. Berpindah dari satu restoran ke restoran yang lain. Bertemu kawan lama, menggali memori, menertawakan kenangan. Makan malam dengan mereka berdua menutup perjalanan itu.

Malam sedikit larut, waktunya berjabat tangan. Memeluk pundak, menukar angan.

“Sampai ketemu di Bali.”

“Sampai ketemu di Melbourne.”

Saya membalik badan. Berjalan seorang diri di lorong mall yang mulai sepi. Melingkarkan tangan ke atas, menjepit tengkuk yang lelah. Ah, saya benci berpisah.

Bali. Melbourne. Perth. Saya mendongak ke atas. Tuhan, mohon, jangan lagi ada ironi.