“Is it easy to live as a Muslim?”

“Well, we have some rules for living. We can’t have sex before marriage, for example. But it’s good.”

“Why?”

“Because love is a sacred thing.”

“Do the rules stated in Qur’an?”

Saya mengangguk, berharap tak ada tanya lebih jauh. Jika dia membahas ayat, habislah sudah. Dia hanya bergumam, menggantung dalam dengung. Satu dari sedikit momen untuk membaca lebih dalam, sebenarnya. Melalui mata. Namun tidak kali ini, ketika dua bolanya disembunyikan gelap. Saya membetulkan posisi kacamata hitam, memastikan dia juga tidak bisa menggali mata saya.

Ini adalah kemungkinan percakapan terakhir yang saya perkirakan. Saat dia datang dan menyapa, saya pikir kita akan berbincang perihal bazar dan makanan Indonesia, alasan saya dan ratusan manusia lain berkumpul di lapangan ini.

“I watched news. About ISIS. It was horrible, wasn’t it?”

Islamophobia. Belum lama sejak kali pertama saya mendengarnya, akhirnya ia bertamu juga pada Minggu sore itu. Ia hidup di sini, di jiwa sekian warga kota tepian barat Australia ini. Kata itu melempar saya, jauh ke belakang garis batas minoritas. Akhirnya. Sebagai seorang pria Jawa muslim, sudah terlalu lama saya nyaman hidup dalam bayang-bayang keramaian.

Saya menarik napas, tersenyum. Lalu menjawab tentang mereka, ISIS, yang salah kaprah dalam agama. Tentang jihad, dan semacamnya. Juga tentang ketidaksetujuan pribadi.

Dia menyunggingkan senyum, samar sekali, seperti mencium ketidakpastian jawaban. Seorang anak kecil berlari mendekat. Mata biru kecil itu bergelayutan mengikuti rambut pirangnya yang dibiarkan tergerai. Dia minta digendong ayahnya.

“Hey, buddy.”

Saya menyapa. Mereka berdua tersenyum. Ada sedikit peluang agar obrolan beralih ke pipi merah anaknya, tawa berkawan barisan gigi mungilnya, baju merah mudanya yang dikibarkan angin, apapun kecuali tentang Islam. Asap dari pembakar sate memanaskan udara musim dingin, menusuk punggung, mengurung hidung. Semakin sesak ketika ternyata percakapan tidak keluar jalan.

“Do you believe Jesus exist?”

“I believe he was Isa. Our 24th prophet.”

“Who was the first?”

“Adam.”

Dia kembali berdehem, lalu bertanya berlompatan. Tentang Nabi Muhammad dalam versinya, kembali tentang ISIS, jihad dan semacamnya, tentang Tuhannya dalam versi Al-Qur’an, dan rentetan pertanyaan lain yang dia tuntut untuk dijawab dengan data. Saya mengganguk dan menggelengkan kepala bergantian, berulang kali. Saya menoleh ke kawan-kawan yang sibuk membolak-balik sate dan berjualan di balik etalase, berharap satu dua orang datang dan bergantian peran.

Pada suatu titik, dia tersenyum.

“You should know it, why you believe in something. I read Qur’an, and I believe Muhammad existed.”

Ada yang menghilang di udara, panjang. Teriakan anak-anak yang berlarian mengisinya. Dia pamit, kembali ke keluarganya yang duduk melingkar dekat gawang. Dia menjulurkan tangan,

“What’s your name?”

**

“Al-Ghasiyah,” katanya singkat. Matanya malu-malu menyapu.

Lima belas menit sebelumnya saya habiskan untuk menemaninya mengaji. Kita duduk beralas karpet, berhadapan menunduk dalam Al-Qur’an. Butuh belasan huruf untuk membiasakan saya membaca dari arah terbalik. Dia membaca patah-patah, napas boros disana-sini. Beberapa kali salah membaca lam berbentuk ketapel menjadi mim. Dua baris, dan saya tahu belum saatnya dia diajarkan beda nun dengung dan nun tenggelam. Kapan huruf harus diredam, dan mana yang dipantulkan di akhir.

Saatnya dia menyetorkan hapalan surat. Saya mencari Al-Ghasiyah, memilah juz 30 yang banyak berjeda basmalah, menyelami huruf Arab yang bersambungan, panjang dan pipih seperti perahu di Swan River yang saya lihat tempo hari. Mendengarnya melafalkan hapalan, terasa seperti melihat diri sendiri. Dulu, belasan tahun lalu. Ritme yang tak teratur, tersendat pada bagian yang tak teringat. Ayat berbeda yang berpantulan, berpadu dengan kawan-kawan lain yang sedang mengaji.

Sudah lama sekali suasana ini tidak menyelimuti. Alunan yang menenangkan.

You should know it, why you believe in something.

Bulan sudah berganti ketika kalimat pria berkacamata hitam itu kembali hadir, bergaung di ingatan. Saat di kamar seorang diri, saya mengambil Al-Qur’an dari dalam lemari. Membersihkan debu tipis di wajahnya, membuka resleting yang agak terhambat. Saya menemukan Al-Ghasiyah, berusaha merekam, agar tak perlu lagi membaca saat disetor hapalan minggu depan.

You should know it, why you believe in something.

Dan di sana, tepat saat saya akan menutup Al-Qur’an dan malam. Ada terjemahan ayat pertama, menyendiri di tepi halaman.

Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari kiamat)?