“Do all of the women from your country use that?” Dua telunjuknya menabrak gagang kacamata saat menggambar lingkaran mengelilingi wajah.

Veil. Jilbab.

“Not all of them. But most of Indonesian muslim women wear it.”

“Must they do that?”

“It is stated in Qur’an.” Kalimat saya menggantung, tak kunjung menemukan ayat.

Dia masih menunggu. Saya memainkan garpu mencari waktu. Dua orang pengunjung memasuki restoran. Pintu berdenting, suara jalanan Victoria Park yang ramai menyeruak masuk. Satu jawaban romantis terlintas bersamaan dengan udara hangat musim gugur yang menerpa wajah.

“We believe that a woman’s beauty is only for her husband,” saya tersenyum, “so they cover their hair and skin.”

“That’s selfish.” Potongnya, singkat.

Saya tersenyum. Intonasi komentarnya senada dengan percakapan serupa di masa lalu, pada musim dan meja restoran yang berbeda. Dia terkejut dengan beragam batasan dalam Islam, termasuk soal sex, wanita dan sekitarnya.

But that’s not a life, katanya ketika itu.

Satu pesanan datang. Seporsi batagor dalam piring pipih panjang. Bumbu kacang menghitam itu mengingatkan pada kupat tahu Bandung. Juga sarapan yang terburu-buru dan bising angkot Dago yang berebut penumpang. Derap langkah jauh lebih pelan di kota ini. Bus kota berhenti di luar restoran, mobil-mobil mengantri di belakang. Tak ada interupsi.

Kecuali pertanyaannya yang memotong sunyi.

“Will you be a strict parent?”

“What do you mean?”

Dia berkisah tentang harinya saat memasang tindik telinga dan tato di tungkai kaki. Tentang kebimbangan yang mengiring dan jawaban diplomatis dari orangtua. Tidak melarang, namun tetap mengingatkan anaknya perihal rasa sakit. Akhir cerita, tak ada yang terluka usai percakapan telepon itu. Lalu dia kembali bertanya.

“If your kids want to have different religions, will it be okay?” Katanya sambil meraba tindik di telinga kiri. Putih itu berkilauan ditimpa cahaya redup musim gugur.

“No.”

“So you will be the strict one.”

“In the matter of religion, yes.”

Lalu saya menceritakan tanggung jawab seorang ayah. Yakni membawa seluruh keluarganya ke tempat terbaik, nanti. Dia nampak lebih mengerti ketika saya menyebutkan kata afterlife. Sebab akibat. Saya akan menempuh perjalanan panjang untuk menjelaskan konsep pahala dan dosa, andai pelayan tidak datang menyela.

Pesanan yang lain datang. Nasi kuning dan nasi goreng yang mengepulkan uap. Saya lantas teringat pada rice cooker yang dia berikan sebelum ini. Dia akan pulang selama musim panas, selanjutnya akan mencari kamar baru di akhir Februari nanti. Banyak barang layak pakai yang dibuang di depan rumah, satu kebiasaan masyarakat Perth yang belum saya temukan logikanya. Rice cooker dan beberapa perkakas lain telah dia pisahkan.

“Give these to your friends.” Katanya singkat, ketika itu.

Uap nasi terus menari. Dia nampak tak bersemangat menyendok nasi goreng.

Apakah terlalu pedas? Saya berpikir dalam hati.

“Everytime I talk about religion with you, I always feel like a bad guy.” Wajahnya tertekuk ke arah piring. Mata sipitnya semakin menghilang ditelan kacamata. Ada tawa pelan disana.

Tawa yang terdengar miris.

**

Satu hari kemudian.

Saya selalu merasa ada yang terlewat.

Barang-barang yang dia berikan sudah menemui peminatnya. Seharian penuh saya membuka-tutup ponsel, mengetik dan menjawab. Saya terus memeriksa obrolan di grup percakapan, mencatat siapa mengambil apa.

Tapi masih ada yang terlewat.

Sampai saya sadar, ini bukan soal apa yang sedang terjadi. Tapi ada yang terus meraung di memori. Akhirnya di larut malam, saya meneleponnya. Ada yang harus dikatakan. Suara berat itu menjawab di kejauhan.

“My friends want to buy your stuffs.”

“Oh no, just give it to them.”

“We will give the money to the poor kids in Indonesia. A kind of scholarship. I should have told you before.”

Sedikit spasi. Lalu saya kembali mengisi.

“Thank you.”

“It’s fine. I’m feeling good to help people.”

Ada kelegaan di sana. Melayang di daun telinga.

“Have a safe flight to China.”

Dia mengucapkan terimakasih, lalu menutup telepon. Saya berbisik pada kamar yang lengang,

“You are not a bad guy, buddy.”