Perlukah alasan yang benar untuk berbuat baik?

“Dia berkata sangat mencintai istrinya, tidak ingin berpisah. Lalu dia bertanya, adakah kesempatan agar mereka bisa bersama di akhir nanti?”, ia menarik napas, tersenyum lebar, “tentu saya menggeleng, tak ada cara selain sang istri bergabung atau kawan saya mengucap syahadat.”

Ia berhenti sekian detik. Matanya menyapa pendengar yang duduk di sekeliling, anting-anting lebar itu berayun pelan. Senyumnya kembali muncul, ada satu hal baik yang ingin lekas diucapkan.

“Akhirnya ia memeluk Islam.”

Saya tidak menyangka dongeng seperti ini akan ada juga di sini. Di kota yang barisan bangku tamannya melebihi jumlah shaf shalat Jumat ini. Saat datang ke acara sarapan tempo hari, saya menebak hanya akan menemukan obrolan kerja. Berkawan pisang goreng dan teh Indonesia yang pahitnya membangunkan rindu.

Kemudian ia, si pembicara dadakan, berkunjung dan mengisahkan keluh kesah. Di suatu titik, ia sampai pada kalimat yang memulai pagi,

“Kadang pengislaman tidak butuh ayat-ayat panjang.”

Mata saya terbuka. Layar panggung tak jadi digulung.

It’s just the matter of the right place or the right time”, sambungnya.

**

“Kenapa saudara ingin menjadi muslim?”

Wajah sang dai memenuhi layar lebar. Dulu dia sering muncul di TV. Seperti tsunami yang menyapu pantai tak kunjung kembali, kariernya sekarat karena persoalan poligami. Satu dari sedikit hal halal yang dibenci umat-Nya dan umat lain. Kini sang dai kembali menjejak bumi, satu yang ia syukuri berulang-ulang sepanjang ceramahnya sejam terakhir.

Saya dan para jamaah merapatkan jaket, menghalau pelukan angin malam Bandung. Kami tidak kebagian tempat di dalam masjid.

“Kenapa saudara ingin menjadi muslim?” ulang sang dai, tersenyum. Gagang kacamatanya berkilau.

Sepotong wajah si muallaf menyempil di layar. Dia menceritakan perjalanannya dari pulau seberang, lalu menemukan tambatan hati di kota ini. Tentang pertemuan, pencarian, dan jawaban. Di akhir cerita, terselip sesuatu yang belum diberikan waktu. Berupa restu dari ayah ibu.

“Memang tidak mudah,” intonasi khas itu tetap disana, “tapi silaturahmi dengan orangtua harus terus dijaga.”

Si muallaf mengangguk. Kalimat syahadat bergumam, hamdalah berjamaah ikut menghangatkan malam. Semua tersenyum, kecuali saya yang bertanya dalam hati.

Pantaskah cinta terhadap manusia menjadi alasan berpindah agama?

Tuhan mendengar pertanyaan saya. Tapi Tuhan menunggu.

**

Tiga tahun kemudian, si pembicara dadakan melanjutkan kisahnya.

“Akhirnya sampai pada satu hari ketika ia siap untuk diIslamkan.” Sudah satu jam lebih, gelegar suaranya tak kenal jerih. Kalimatnya mengembalikan perhatian. Gelas-gelas teh diletakkan, piring kue berhenti berpindah tangan.

“Saya menyiapkan semuanya. Pagi itu di masjid, saya menjadi saksi. Setelah syahadat dan lain-lain selesai dilakukan, dia bertanya pada saya.”

“Do you want to know why I want to become a muslim at 11 in the morning?” Ia menirukan pertanyaan si kawan.

“Why?”

“Because I want to experience my first shalat right now.”

Saya tercengang. Tenyata masih ada keindahan dalam hal-hal kecil. Seorang muallaf yang melakukan dua rukun Islam sekali waktu, misal. Tak ada suara, sejenak hanya hangat yang mengisi udara. Hari beranjak siang, si pembicara tetap duduk nyaman. Rambut panjangnya terikat kencang, angin leluasa mengetuk tengkuk. Ia tahu benar bagaimana meladeni panas musim semi.

Para pendengar sedang menikmati keromantisan agama ketika ia kembali berbicara.

“Karena tidak ada pria yang bisa menjadi imam, akhirnya saya yang memimpinnya shalat.”

Beberapa pendengar mengangguk. Sisanya mengerutkan kening, termasuk saya.

Perlukah alasan yang benar untuk berbuat baik?

Mungkin tidak di hari itu. Mungkin beberapa juga bertanya serupa dalam hati. Entah.

Satu yang pasti. Tuhan mendengar pertanyaan kami. Dan Tuhan menunggu.