Corat-coret vandalisme di dinding stasiun kereta, kabel trem melintang mengotori langit, transportasi publik tidak terkoneksi ke Google Maps, bus khusus bandara-kota yang terlampau mahal. Saat menyusuri trotoar berkawan lonceng trem yang hilir mudik, tiga jam setelah mendarat, saya sudah bertanya pada udara, “Bagaimana bisa Melbourne jadi yang ternyaman di dunia?”

“Banyak tempat bersosial. Taman, museum. Transportasi publiknya juga baik, karena terintegrasi ke tempat-tempat besar.” Jawabnya, tiga hari kemudian ketika menyempatkan bertemu.

Kereta Sydney jauh lebih baik, rutuk saya dalam hati. Dua tingkat dan gerbongnya tidak kumuh.

“Mereka hidup bukan untuk uang, namun kebahagiaan,” senyumnya melihat ketidakpuasan di wajah saya, “orang pulang kerja wajahnya santai-santai aja.”

Perth tidak jauh berbeda. Kota sudah sepi pada jam delapan malam. Para pekerja memilih pulang bertemu keluarga daripada bertahan di luar.

“Apa sih yang hanya ada di sini?”

Ia tak menjawab. Kembali mengulum senyum.

**

Segelas mocha selalu menerbangkan pikiran saya kemana-mana. Ke kubikel-kubikel kosong perpustakaan kampus dini hari, pagi gerah Victoria Park, dan pantulan malam di genangan jalanan berlubang Bandung. Saya menghirup pahit kopi dari lubang sempit di tutup gelas.

“Kopinya enak?” Senyum itu kembali menginterupsi.

Saya tersadar di bangku besi, kilau gedung-gedung pencakar langit duduk di seberang sungai.

Saya hanya mengangguk, lalu mendongak. Untuk lebih tenggelam dalam purnama yang menyala sendirian. Tak ada bintang. Dan riak Yarra River lebih memilih memantulkan lampu kota yang terus terjaga. Sudah jam sepuluh malam namun orang-orang masih ramai menyusuri jalanan setapak sepanjang sungai.

“Gak ada tempat seperti ini di Perth.”

“Oh iya?”

“Aku pernah diusir dari café jam empat sore.”

Ia tertawa. Saya tertawa. Bisikan kereta menginterupsi dari kejauhan, platform Stasiun Flinders Street terus dijejali manusia malam.

Saya membuang wajah dua detik. Deretan bangku kosong mengisi sisi kanan. Kami duduk di sudut kiri agar bisa menikmati purnama di sela-sela ranting pohon.

“Akhirnya kita di sini juga ya.” Katanya mengisi sepi.

Matanya menerawang. Saya menemukan kelebatan perjuangan di suatu masa. Dua tahun lalu, Australia belum sedekat ini. Pelatihan beasiswa sampai dini hari, IELTS yang tak kunjung memenuhi. Juga rentetan kopi malam yang mengikuti. Berdua atau bersama yang lain.

“Coba disini juga ada teman-teman.” Katanya sambil menyebut dua tiga nama.

Apa mereka juga pernah mengenang kita di sana?

Saya menghembuskan napas panjang. Tidak menyangka datang ke kota ini justru untuk mengunjungi masa lalu.

Saya melirik ke arahnya yang sedang meniupi uap kopi. Gelas gelap itu menyatu di balik pakaiannya yang berkombinasi biru dan kelabu. Dua warna langit Melbourne yang kerap berganti tanpa peduli hari.

Matanya masih menerawang. Lampu kota dan purnama terbenam di bola hitamnya.

“Kopinya enak?” Ia menatap, kali ini matanya yang bertanya. Saya tahu kemana gemintang di langit pergi tak ingin kembali.

Dan akhirnya saya menemukan apa yang tidak bisa ditemukan selain di Melbourne.

**

Lima jam sebelum penerbangan pulang, berkawan dua tas backpack di hadapan, saya duduk bersandar tembok café kecil Flinders Lane. Aroma coklat mocha menyeruak, menganggu saya yang sedang menulis catatan perjalanan di ponsel. Dua wanita duduk bersanding kaca, saling menjaring tawa dalam bahasa yang asing, beberapa pejalan kaki bersliweran di lane yang sempit.

Seorang pelayan melewati saya, tersenyum. Ia keluar melipat meja dan kursi kayu. Gerimis yang turun mempercepat gerakan tangannya. Malam bertamu terlalu cepat di tempat ini. Saya mengecek arloji, delapan menit menuju jam empat sore. Lagi-lagi saya diusir dari café.

Di bawah rintik seadanya, saya menuju bandara.