“My wife and I cry almost every day.”

Ucapnya, dengan wife yang terdengar seperti why. Butuh dua hari sampai saya mengerti aksen Kamboja yang gemar meniadakan desis ‘s’, ‘f’ dan semacamnya.

“Why?” Saya bertanya pada sepasang malam gerah dan botol bir dingin di tangannya.

“We had lived for 32 years in Phnom Penh. We have no friends here.”

Namanya Ra. Ia dan keluarga kecilnya baru sebulan terakhir pindah ke Siem Reap, sebuah kota kecil Kamboja yang riuh oleh turis ini. Ia menyopiri tuk-tuk tak peduli matahari melayang atau tenggelam. Kadang di pagi buta ia mengantar istri berjualan baju di pasar.

Saya teringat pagi itu ketika ia melambai ke arah kami bertiga yang baru turun dari bus. Hanya butuh sepuluh menit di atas tuk-tuk untuk bertukar tawa. Dan belasan jam setelahnya ketika ia mengantar kami menembus terik dan debu berkeliling kawasan Angkor Wat.

Tidak punya teman.

Ra dan kami bertiga dipertemukan oleh alasan yang sama.

“Where did you live?” Seorang kawan bertanya sambil menghisap kerang rebus.

Saya mengeluarkan peta Phnom Penh dari tas, sembari menunjukkan hotel tempat kami menginap tempo hari. Ia mengedarkan jari dan pandangan, dari utara ke selatan.

“Oh your hotel is near my home.”

Tatapannya terpaku pada peta. Ada anak sungai merah di putih matanya saat menyebut rumah. Entah lelah entah gumpal airmata. Saya mengecek arloji. Masih belasan menit menuju jam sembilan.

“So you will live in Siem Reap for the rest of your life?” Saya mencoba mengambil peta, untuk membendung yang belum basah.

Ra menggeleng. Lalu ia menjawab tentang masa lalu yang penuh luka dan liku. Mabuk-mabukan, tak berpendidikan, tidak mencari pekerjaan. Semua berubah ketika ia bertemu dengan wanita yang ia nikahi sekarang. Ia ingin bekerja keras, menjadi supir tuk-tuk, memiliki toko pakaian bekas di halaman rumah, dan membeli tuk-tuk lain untuk berjualan pizza. Meski relatif lebih mahal, ia ingin menyekolahkan anak tunggalnya di sekolah berbahasa Inggris, bukan hanya di sekolah Khmer yang gratis.

“I don’t want my daughter to be like me”. Saya melawan batuk dan kantuk untuk meraba tusukan kalimat itu.

Adakah yang lebih kuat mengubah masa depan selain masa lalu?

It’s a little bit late now. Itu yang saya lihat di redup matanya.

“We will see in three months my friend”, namun kalimat optimis itu yang mengudara.

Saya menjepit cumi rebus dengan sumpit, asin gurihnya menembus pilek akibat kelelahan perjalanan lintas negara. Kawan di hadapan meneguk teh lemon dari botol. Seorang lain hanya memutar-mutar es batu di gelas. Ra mengecek ponsel untuk melihat jam.

Untuk sepuluh detik, tak ada yang bertukar pandang.

Malam sudah hampir menyentuh permukaan.

**

Tempo hari saya duduk seorang diri di restoran yang sudah tutup. Lampu telah lama mati, koki sudah membalik panci, menyisakan saya yang menatap lengang malam Victoria Park. Dua pemuda lokal beriringan di trotoar, menginterupsi bias lampu jalan yang melewati etalase kaca. Suara mesin pencuci piring berhenti, digantikan dengung pendingin minuman di sudut ruang.

Saya kembali menyesap teh botol. Pahitnya melempar saya ke sesak malam Siem Reap.

Setelah satu hembusan napas panjang, saya berdiri dan merapikan kursi. Lalu tersadar, sepuluh menit terakhir saya duduk dengan tiga kursi kosong.

Di luar, disirami lampu jalan pengisi sepi, saya melihat Ra sedang menyalami kami dari atas kemudi tuk-tuk. Di penghujung malam itu di luar hostel, ketika Ra dan kami bertiga telah menjadi kita.