“Yes, I’m here at uni. You sound not alright, and I’m worried. Are you okay?”

“I don’t know. I’ll see you at 3 buddy.” Jawab saya dari ujung telepon, ketika itu.

Pukul tiga kurang sepuluh, dengan Bahasa Inggris yang terbata-bata, saya bercerita. Gerimis menginterupsi di separuh awal.

**

Saya mencengkeram keras setir mobil. Jalan ke bandara di malam lengang melarikan pikiran saya kemana-mana.

Di persimpangan Leach Highway, mobil belok kiri. Saya memberi jalan pada mobil dari jalan utama. Mereka melesat cepat. Pandangan saya kabur.

**

Sehari setelahnya.

“Is everything okay, sir?”

“Sorry?”

Dia mengulang tanya. Kali ini saya menatapnya.

“Not bad.” Saya berbisik.

Rahang tegas itu mengendur. Tersenyum. Wajah profesional yang tujuh menit sebelumnya menanyakan soal kursi café dan kopi hilang entah kemana.

“Not bad.” Ulangnya.

Saya menghembuskan napas panjang. Membalas senyum seadanya.

“I’ll bring your mocha when it’s ready, sir.”

**

  1. 80. 80. 80. 70. 70

Dari perempatan Manning Road, papan penunjuk batas maksimal kecepatan berbaris sepanjang Leach Highway menuju bandara. Berulang kali saya melewati dan menaruhnya ke memori.

Mengantar dan menjemput orang yang berbeda. Mereka butuh perjalanan, saya perlu jam terbang menyetir. Semua senang.

80, tulis papan bundar berlingkar merah itu.

Saya menekan dalam pedal gas. Mobil berlari, menembus kelebatan lain.

**

Sehari setelahnya lagi.

Saya tidak tahu sudah berapa lama duduk bersila sampai seorang pria menghampiri,

“Excuse me, Sir, do you need something to eat?”

Aksen Timur Tengahnya bergema di musholla yang nyaris kosong. Di tangannya ada piring dan kebab berselimut kertas putih.

“I’m okay.” Saya menjawab patah. Mata tetap ke arah sajadah yang basah.

“Are you sure, Sir?” Suaranya terdengar prihatin.

Apa ia tak pernah melihat seorang pria yang terisak?

“Yes, I’m good.”

Setelah dia pergi, saya mengelap wajah dengan ujung baju.

**

  1. 50. 70. 50. 20

Papan 50 berdiri di area pelan memutar roundabout. Angka 20 milik area parkir bandara.

Saya menuju terminal 1. Terminal international. Kawan saya, pemilik mobil ini, sudah pulang. Mungkin ini menjadi perjalanan terakhir saya ke bandara.

Saya mengecilkan suara MLTR dari pemutar musik. Dua bulan ini, kaset itu tidak pernah saya ganti. Berpantulan dan terlupakan, karena saya begitu fokus pada bentangan jalan.

Di angka 50 kedua, roundabout terakhir, saya lurus ke terminal 1. Saya tidak menengok kiri.

Saya tidak ingin melihat terminal 2.

**

Keesokan harinya.

“Muram sekali, Re.” Senyumnya. Kami selesai shalat Jumat.

Saya berlindung di balik tudung jaket. Gerimis turun, lagi-lagi. Entah apakah Tuhan memang mengatur seminggu ini sebagai masa berkabung.

“Iya.” Jawab saya pendek.

Saya menceritakan padanya tentang orang lain yang menyuarakan khawatir serupa. Si barista mocha.

“Iya. Aura muramnya kuat sekali.” Senyumnya lagi.

Kami berbincang sedikit soal cuaca.

“As your friend and brother, saya minta kamu tetap fokus ke thesis ya.”

Apalagi pelarian terbaik selain akademik?

**

Mobil berjalan pelan di area penjemputan bandara. Kosong. Tak ada yang tersisa di kedatangan tengah malam. Kawan saya keluar mendorong troli.

“Apa kabar, Mas?”

“Baik, Re. Apa kabarmu?”

Saya tidak mampu menjawab. Teringat seorang lain yang pergi, entah kapan kembali.

Saya mendongak. Langit cerah. Tampaknya mulai besok hujan sudah berhenti. Saya terus mendongak. Pesawat lepas landas, kelip lampunya mengiris langit.