“Lagi di kosan Bandung, ada apa?” Jawabnya dari ujung telepon.

Saya berbicara dua menit. Tentang alasan dan kejutan.

“Tiga hari??”

“Kalau tidak bisa tidak apa-apa.” Jawab saya seadanya.

“Oke, aku pulang.”

Sambil menuruni tangga menuju laboratorium, di tengah durasi panggilan internasional yang terbatas, saya kembali berbicara dua menit. Setelah salam, kakak saya menutup telepon.

**

Kaos lengan panjang hijau lumut. Celana jeans yang menipis di lutut. Sepatu biru laut.

Saya menyiapkan pakaian yang akan digunakan besok malam. Saya membuka laci meja. Membalik lembar paspor yang dijejali cap biru dan merah sampai halaman sembilan.

Saya meraba halaman sepuluh. Esok kosongnya tak lagi utuh.

**

“Dua minggu ke depan bakal sibuk, Mas.” Jawabnya.

“Keadaan berubah, tapi tiket gak bisa dibatalin.”

“Berubah?” Tanyanya. Suara dari ujung telepon dijejali detak ketik komputer. Dia sedang di kantor.

Saya menjawab dua pertiga menit. Lalu telepon menjadi hening.

Saya melirik arloji sambil mempercepat langkah ke musholla.

Dan bertanya.

“Butuh berapa buat pesawat Jakarta-Semarang?”

“Nanti kupastikan dulu ke bos. Kuusahakan pulang.”

Adik saya menutup telepon.

**

Saya meminum teh. Pahitnya menusuk lamunan, panasnya mengembalikan sejuk musim gugur. Garis biru putih di badan gelas mengingatkan pada potongan jendela pesawat.

Saya memasukkan segenggam novel untuk bekal perjalanan. Juga ebook reader yang sudah lama tak tersentuh. Tas sudah penuh. Tak ada bagasi yang sempat dibeli dan saya harus ingat itu.

Masih ada satu buku teronggok di meja.

Sesosok anak kecil kesepian di biru covernya. Rambutnya keemasan, kerut asteroid ada di bawah pijaknya. Ia menatap kuning bulan dan bintang yang bergantungan.

The Little Prince.

Saya menyesap teh yang tak lagi panas. Seperti janji, dirinya terlanjur dibekukan suhu dan waktu.

**

Dua minggu lalu.

“You can’t put your 100% trust on someone. You just can’t.”

Saya menggenggam cangkir teh. Rintik beritmik berloncatan di atap. Angin berhamburan dari pintu yang terbuka. Semua membicarakan cuaca Perth yang kacau seharian ini. Tapi saya tetap bersepeda kemari.

Jaket kuyup. Lutut letih mengayuh sembari melawan angin.

Harga yang pantas untuk sebuah diskusi malam itu.

“It’s the time for you to step back and reassess everything.” Lanjut si pria bersweater.

Sebagai seorang yang pernah ditinggalkan orang tersayang, kepercayaan adalah isu penting baginya. Dia mengerut kening mendengar saya yang akan terbang kesana-kemari untuk masalah hati.

I don’t need to. I love her. Saya menyembunyikan gumam.

Namun ia tampak mendengar.

“Trust is earned, Rean.” Senyumnya.

Saya tahu ia bisa saja salah. Saya juga tahu ia melihat kasus saya dari pengkhianatan yang ia dapat di masa silam.

Satu yang saya tidak tahu.

Kata-katanya akan terbukti tiga hari kemudian. Secepat itu. Se-tidak mungkin itu.

**

Trust is earned. I’ll never forget your words.

Saya mengecharge ponsel. Pesan minggu lalu tanpa sengaja terbaca kembali.

Keep your chin up. I’m sure you’ll find someone better. Jawabnya. Dari si pria bersweater.

Ponsel saya kunci. Saya melanjutkan packing. Memasukkan koleksi empat tumbler Starbucks yang boros volume tas.

Kuala Lumpur. Sydney. Brisbane. Dan Melbourne.

**

“Manusia itu terlalu sombong, Re.”

Saya mengangkat wajah tanpa bersuara. Untuk apa.

“Kita merasa paling tahu apa yang terbaik untuk kita.” Lanjutnya.

Saya menelan sedikit kuah mie instan. Saat saya bertamu, setengah jam lalu, dia kelabakan melihat saya belum makan seharian.

Siapa yang peduli makan di tengah masalah?

Saya tetap tidak menjawab. Suara TV mengambil alih udara.

**

Saya mengeluarkan tumpukan kertas dari dalam ransel. Laporan project sudah usai. Sekali presentasi penutup dan jurnal-jurnal ini akan berakhir di kardus. Selembar kertas jatuh.

Sebuah mind map.

Saya membaca lagi kotak bercabang yang dipetakan nyaris sebulan lalu itu. Tentang seseorang. Saya tersenyum. Setelah persiapan interview beasiswa, ini adalah mind map kedua saya sepanjang hidup. Saya melemaskan leher. Kertas saya lipat dan sisipkan di tempat yang seharusnya. Kotak sampah.

Keadaan berubah, tapi tiket gak bisa dibatalin. Kalimat itu terlintas lagi.

Saya mengambil kertas baru. Memulai mind map lain.

**

“Life must go on, Re.” Senyumnya sambil mencengkeram pundak.

Teduh nada kebapakannya masih disana. Meski sebulan terakhir ini banyak sekali amanah beliau yang saya lalaikan. Terlalu banyak, sampai senyumnya terlihat lebih dalam dari biasa.

Saya mengerti. Ucapnya berkali-kali. Dari dulu sampai tempo hari saat kami tanpa sengaja bertemu di sepotong malam gerimis.

Dia masih tersenyum, menyipitkan mata. Semua orang sedang berjuang, memang. Entah apa yang disembunyikan mata lelah itu. Tapi ia tahu milik saya, bahkan sempat ikut tenggelam di dalamnya.

“Iya, saya juga tidak percaya.” Akhirnya saya menjawab, menyembunyikan pandangan.

“Besok jadi saya antar ke bandara?”

Hujan semakin deras. Langit sudah menjawab.

**

Saya berakhir dengan kertas kosong. Tak ada jejak kotak-kotak mind map. Terlalu banyak yang bisa ditulis. Mungkin akan saya lanjutkan di atas pesawat.

Saya menghabiskan teh yang tersisa. Manis sepatnya mengingatkan pada rumah. Saya membayangkan, esok lusa, akan ada enam gelas teh panas di atas meja. Kepul uapnya berkawan gerah tropis. Saya akan berbicara tentang penolakan, keputusan dan ketidakmungkinan.

Saatnya menjadi pria.

Entah lima orang lain akan berkomentar apa.