Beberapa senang mengabadikan kenangan dalam gambar. Beberapa yang lain menemukan dunianya saat bermain kata. Sejak memiliki kamera setahun lalu, saya merasakan keduanya. Bagi yang sudah mengikuti, pasti tahu Instagram saya (@reanhidayat) mulai terasa berbeda sejak saat itu.

Tulisan yang akan dibuat berseri ini ingin merangkum beberapa foto dan caption Instagram saya yang sekiranya menarik. Tiga sampai lima foto setiap tulisan sudah lebih dari cukup. Tidak akan diurutkan sesuai tanggal foto, karena saya mulai bosan dengan keteraturan.

Jadi, kita mulai saja.

  1. Potongan buku Pelangi Dari Selatan karya bersama teman-teman CIMSA (Curtin Indonesian Muslim Students Association).

Pelangi dari Selatan

Bagi yang (merasa) pernah dekat, tentu tahu apa mimpi besar saya yang tak akan digerus waktu: menulis buku. Judulnya Pelangi dari Selatan. Kumpulan kisah keroyokan saya dan teman-teman di Perth yang sunyi ini. Semoga bisa lekas menyelesaikan milik sendiri.

2. Dedaunan musim gugur di sebuah taman daerah Subiaco, Perth.

Autumn Leaves

I call him Nes. As a wise yet objective soul, people come to him asking for life advices. A couple days ago, on the phone, he talked to his friend who was facing divorce issue. He seemed serene for the whole day. But I knew, his smile was a gallery of fragile voices.
However, in front of a writer who embraced somebody else’s sadness, the quiet listener became a story teller.
“The point is, Rea, people need to be told what they need to be told.”
People are too complicated. Most of the times, their broken hearts are best to remain untouched. Let the time to heal the wounds.
“Yes, but say it nicely.” I smiled.
He nodded yet his tired eyes whispered a different thing. Maybe he was fighting another battle I knew nothing about. Like I said, people are too complicated.
And now I understand why Peter Pan didn’t want to grow up.

3. Puluhan ribu kaki di langit Pulau Jawa. Beberapa putaran lensa di atas awan jingga.

Sriwijaya Air

Seberapa jauhkah ‘jauh’?
Suatu waktu, Agustinus Wibowo membuka novel dengan tanya itu. Titik Nol, kisah perjalanan terberat yang pada akhirnya akan dilangkahkan semua petualang. Perjalanan pulang.
Seberapa jauhkah ‘jauh’?
Dulu saat mengantar seseorang ke bandara, jarak pernah menyusut pendek. Rasanya hanya empat lagu berputar dan menara ATC sudah menyapa dari kejauhan. Tempo hari, di bawah desing pendingin kabin, saya paham mengapa ‘jauh’ ditanyakan. Kepak pesawat seperti tak bergerak, ikut tenggelam dalam bius awan kekuningan. Masih jauhkah rumah?
Saya mencengkeram paspor, penat. Kepala berat hampir tidak tidur sejak transit semalam. Dan tiba-tiba,
“…mari kita berdoa pada Tuhan Yang Maha Esa agar selamat sampai tujuan…”
Ada suara yang mengisi lorong kosong. Saya terkejut dengan pengumuman Sriwijaya Air yang tidak biasa itu. Berdoa. Tuhan. Tujuan.
Dan saya sadar sudah berada di Indonesia. Paspor saya simpan, tidak butuh. Karena rumah tak lagi jauh.

4. Sore di Masjid Al-Serkal Phnom Penh, Kamboja.

Masjid Al-Serkal

“Pray?”
“Yes, pray.” Salah seorang dari kami memberi gerakan sholat.
“Oh, pray.” Senyumnya, tangannya kaku meniru takbiratul ihram. Belasan menit ia mengendarai tuk-tuk dan sampailah kami disini.
Tak terlampau jauh dari area pasar malam dan riverbank yang riuh, saya seperti tidak berada di Phnom Penh sore itu. Kubah serta sabit di pucuk sana terasa berjarak ribuan kilometer dari barisan candi, biksu dan patung budha yang saya temui sepanjang hari. Akhirnya kami duduk berkawan senja dan teriakan anak-anak yang bermain bola. Menelantarkan Ashar sampai ke penghujung waktu, selalu.
Di tengah kebisuan, saya memisahkan diri. Untuk mencari angle terbaik, juga potongan pemandangan saya-di-15-tahun-lalu.

5. The Little Prince yang legendaris itu. Buku terakhir yang saya temukan setelah menjamah toko buku ketiga di Fremantle, Perth.

Little Prince

After two weeks (regardless of my-so-demanding-seismic-project) I finally finished reading this classic book. The Little Prince shows us what grown-ups hardly notice: stars, flowers and everlasting sunsets. Right after completing the last page, you’ll realize, we are all children in adults bodies. The Little Prince, and every single book, eventually, just changed how I see the world. Time will never blunt the edges of its sharp simplicities.

Sampai bertemu di Merekam Instagram (2).