Dari malam muram di Mill Point, kilau kota Perth selalu bernada kehilangan. Tentang seseorang yang datang bertamu sekali waktu, tentang kabut yang memotong separuh horizon, tentang semburat senja yang ditelan Swan River dan memanggil lampu kota untuk bicara, tentang..

“How do you feel?”

Tiga hari lagi saya meninggalkan Perth, dan dia membisikkan tanya keramat itu.

Saya mengepalkan tangan, melempar pandangan ke kanan. Bangku-bangku kayu masih basah oleh hujan sore tadi. Kami sengaja tetap berdiri. Kunjungan ke Mill Point kali ini tidak boleh terlalu lama.

Tapi saya terpaku pada satu gedung yang warna lampunya berganti-ganti.

Hijau. Jingga kemerahan. Biru. Hijau lagi.

Itu gedung Council House. Saya pernah memotretnya dari sisi yang berlawanan, di seberang Swan River sana. Dulu, setengah tahun lalu, di St George Terrace. Di sebelahnya, The Bell Tower hanya setinggi sepertiga korek api. Terlupakan, sudut yang mengerucut makin menjadikannya angkuh tak berkawan. Juga ada semenanjung beton Elizabeth Quay yang baru dibuka awal tahun ini. Sepasang setengah elips membatasi dua sisi jembatan. Di titik tertentu, dari atas ferry saat menyeberang ke Mill Point, dua lengkung itu akan berkomposisi membentuk hati.

Saya menjenguk senyum di sisi kiri. Dan bertanya.

“Will I get a better view in Shanghai?”

“Absolutely.”

Shanghai. Beijing. Shenzhen. Dia, yang tahu saya senang merayakan riuh lampu kota, menceritakan gemerlap di benua seberang sana. Saya memejamkan mata. Setahun lalu saat pertama kali berdiskusi di kelas Sedimentology, tak terhitung berapa kali kami saling menukar ‘excuse me’. Bahkan, sampai sekarang kadang, dia terus salah mengucap nama saya menjadi Rain.

Rain. Hujan.

Kini saya nyaman mendalami riak dan aliran Bahasa Inggrisnya yang makin difasihkan waktu.

Kabut turun, ikut menguping pembicaraan. Apakah hujan juga akan bergabung?

Lalu dia membawa riak dan aliran yang lain. Tentang keajaiban sungai di kota kecilnya. Tanah yang dibawa dari daratan menubruk air sungai yang berdensitas kuat. Dua jenis air menciptakan garis batas di tengah sungai. Kuning berbatas putih.

“You know where the yellow soil is going right?”

“No.”

“Come on geologist!” Senyumnya.

“But you are the better one.” Saya tertawa.

Dan hujan turun.

Saya merapatkan jaket dan tudung kepala. Pantulan lampu kota di gemericik Swan River mulai bias direnggangkan tetes hujan. Saya menghirup napas. Panjang.

“In Chinese drama, every sad moment is accompanied by the rain. Always.” Ada suara dari balik tudung jaket.

Saya memejamkan mata, menengadah. Merasakan tusukan gerimis di pipi dan pelipis.

“Just like now, Rean.”

Dalam malam yang terpejam, saya bisa merasakan mata sipitnya yang menunggu saya berbicara.

Tuhan, jangan tanya itu lagi.

“How do you feel?” Bisiknya.

**

Saya tidak lagi terpejam. Kini hujan ada di kaca mobil, jatuh dan tampias oleh angin.

“When someone says he will come back, actually he won’t.” Tiga hari lagi saya meninggalkan Perth, dan kalimatnya mengiris desis pemanas mobil.

Ironi itu mengingatkan pada seseorang. Ia yang berkunjung sekali waktu, menemani di beberapa gelas kopi, kembali terbang, melambaikan tangan, pergi dan menjadi orang asing. Janji telah ia tinggalkan di masa lalu yang sudah dibuat lupa untuk dijenguk.

“Yes she won’t.” Saya berbisik pada telinga sendiri dan memori.

Kami saling diam. Memikirkan dua orang berbeda di kepala masing-masing.

Saya melihat wajahnya, si gadis bermata sipit, yang ditemaramkan pantulan hujan. Wajah itu menoleh kiri, ke lampu kota yang terus mengecil di jendelanya. Mobil sedang melintasi Mill Point Road. Lapang, dan saya makin merasakan kehilangan.

Hujan dan kesedihan cepat saja melarikan waktu. Saya tidak ingat sudah melewati jalanan padat kamera Canning Highway, café Ciao Italia yang antriannya selalu mengular keluar, juga pepohonan senyap Technology Park, ketika mobil sudah berhenti di traffic light terminal Curtin University. Jalanan kosong, hanya ada satu bus yang merayap pelan memotong persimpangan. Dua penumpang disirami lampu lorong bus yang menyala. Menjadikan mereka etalase wajah lelah berjalan.

Saya menarik napas panjang, ikut lelah, karena mobil sudah menemui persimpangan lain.

Belok kanan, rumah pertama dari jalan utama. Empat unit yang menyatu di balik sebaris pagar.

Rumahnya.

Saya mematikan lampu mobil. Kami disergap gelap. Dia terus duduk, pandangannya merunduk. Saya mencengkeram kemudi mobil, keras, lalu bertanya.

“Why don’t you..”

Dan dia menangis.

Di dalam mobil yang digigilkan malam dan kesedihan, ada rintik hujan yang turun. Dua tiga tetes, jatuh dan lenyap di jok mobil.

Saya memandang kosong ke depan, kini hujan terdengar seperti orkestra musik acak yang berirama. Ada suara bass rendah yang jatuh ke tanah, dengung harmonika milik loncatan hujan di dedaunan, dan hentakan drum dari tetes yang menusuk-nusuk kaca mobil.

“I’m not ready for the tears..” Saya berbisik.

Kini dia menangis sambil menunduk. Hujan di luar senyap, memberi waktu pada si gadis untuk bicara. Untuk memainkan nada kesedihan lain.

“You must visit me in China!”

Bam bam!

“We must travel once I get a job!”

Bam bam!!

Dan partitur final.

“You must come when I get married!”

Bam bam bam!!!!

Saya memegang pundak yang terguncang itu, pelan, untuk menenangkannya. Rambut panjangnya saya dekap. Saya berbisik di telinga kanannya.

“Yes I will come..”

Tiga detik. Lalu dia melepas pelukan saya.

“I wish you will get a good job,” katanya di sela isakan, “and a good woman.”

Ada senyum yang berkawan hening gerimis tangis.

Kini gerimis itu bergabung dengan gerimis lain di luar. Rambut panjangnya dipeluk malam. Bertudung hujan, dia berjalan pelan ke arah rumah. Hilang ditelan pagar dan bayang-bayang.

Tiga hari lagi saya meninggalkan Perth.

Dan saya punya alasan untuk membenci hujan.