“Jarang nulis sekarang?”

Dan saya tersadar sedang duduk di toko kue bilangan Jakarta Selatan. Ini hari pertama di ibukota, dan saya merasa sedih. Saya mengurut dahi, ternyata flu bisa semengganggu ini. Kurang tidur di tiga hari terakhir, terlebih tadi harus terjaga pagi buta untuk mengejar kereta.

Saya meliriknya yang duduk di samping, lalu mengangguk. Iya, jarang.

“Sibuk ya?”

Saya mengangguk lagi. Untuk tenggelam dalam teduh sepasang mata. Dulu, lama sekali, saya pernah menyerah di hadapan teduh itu. Berulang kali jatuh, memaksa saya lebih khusyuk berdoa dan menulis kata-kata.

Di balik jernih sepasang bola berseling tiga helai rambut itu, terbentang kenangan panjang. Pernah kami, berboncengan motor, menyelami jalanan Bandung. Saling mengenal restoran favorit masing-masing, makan kue keju persimpangan Jalan Riau, tak pernah tertinggal film terbaru.

Tapi siang itu, saya segera menolak ke bioskop.

“Jangan, nanti dua jam kita hanya diam saja.”

Ia tersenyum mendengarnya.

Empat jam setelah kereta yang membawa saya dari Bandung merapat di Jatinegara, kami berjumpa. Saya beranjak ketika eskalator membawanya mendekat. Perlahan. Saya tersenyum. Ia juga. Satu jabatan tangan dan lelah lekas saja hilang.

Lantai empat, makan siang yang selalu tidak cukup. Harus ada restoran kedua. Dan sampailah kami disini. Duduk bersebelahan, di hadapan dua potong kue dan kopi yang terlewat mahal.

“Bagaimana disana?” Lirihnya.

Seseorang nampak sudah berdamai dengan waktu untuk terbiasa dengan pertanyaan itu. Tanda tanya serupa pernah ada di Agustus silam, saat saya baru pulang menyelesaikan studi di Australia. Kini, Timor Leste. Sebuah negara antah berantah lain yang memisahkan kami dengan stempel visa dan ruang tunggu bandara.

Tentang Dili, saya ceritakan kesibukan kerja dan hening kota. Jalan raya yang berbatas langsung dengan pantai, makanan dan nuansa Indonesia ada dimana-mana, pekerjaan yang kerap saya bawa pulang ke rumah. Juga pegawai lokal yang saya wawancara dan buatkan kontrak kerjanya.

Ia tertawa saat tahu saya merunut UU Ketenagakerjaan, demi profesi yang tak diajarkan di bangku kuliah.

Sepasang pengunjung masuk. Mereka menimang barisan roti di lorong, kue di etalase dingin, lantas membeli roti tawar di rak ujung. Kemudian pergi. Kembali meninggalkan kami dan tiga pegawai toko dalam penantian menuju malam. Saya mengiris kue keju miliknya. Gurih membersihkan jenuh manis dari kue coklat pekat saya.

Saya hanya mengangguk ketika ditanya enak atau tidak. Ia lantas ganti mencomot kue coklat.

“Kapan resign?” Saya tertawa.

“Secepatnya.” Jawabnya singkat, juga tertawa.

Saya tersenyum. Ia, pribadi petualang pengambil resiko, tentu tak nyaman bekerja dikungkung dingin gedung dan sesak Jakarta. Paling tidak setiap tiga bulan, foto liburannya terpampang di media sosial. Ada riuh ombak berkejaran dan matahari terbenam di dalamnya. Bersama kawan-kawannya.

Juga bersama pria lain.

Saya mendongak, menghembuskan napas. Panjang. Saya terpejam. Bayang perjalanan seminggu terakhir hadir lagi. Dili. Semarang. Bandung. Jakarta. Bandara dan ruang tunggu kereta. Juga wajah-wajah penumpang asing di kursi samping.

Dan ia bersama pria lain.

Saya ingin rebah, lelah…

“Pulang jam berapa nanti?”

Dan saya tersadar terduduk di restoran lain. Empat hari selepas kami menikmati kue sembari menanti malam. Etalase kue berganti kaca berbatas jalan layang kota yang lengang di hari libur.

Ia mengulang tanya.

Sebelah senyumnya ditemaramkan terang dari belakang. Wajah lonjong itu bersandar pada tangan kanan. Menanti jawaban.

“Sembilan malam, dari Gambir.”

Saya meneguk mocha sembari melirik arloji di meja. Masih enam jam tersisa.

Kami membicarakan hal-hal absurd di Dili dan Jakarta. Saya memperkenalkan provider internet bernama janggal, mata uang yang bukan milik pribadi, dan negara yang hanya beridentitas di biji kopi. Dia mengisahkan cicilan rumah belasan tahun, atasan yang bergaji lebih rendah, juga pria dari pulau seberang yang terus gigih mengejar.

Saya meneguk mocha sampai ampas terakhir.

Barisan mobil di jalan layang mulai menyalakan lampu. Sebuah sedan minggir, diikuti mobil lain. Perlahan, semua bergerak ke samping. Memberi jalan longgar di tengah. Semakin besar dan membesar. Lalu spasi makin melebar. Semua mobil melambat, kemudian berhenti, seperti ada yang tak boleh diganggu geraknya. Malam cepat saja bertamu ketika tiba-tiba sebuah pesawat lepas landas. Di jalan layang.

Terbang. Lalu menghilang.

Saya menenggelamkan wajah ke tautan jemari. Minggu depan saya kembali ke perantauan. Kepala makin berat. Ternyata flu bisa semengganggu ini.

“Mau beli obat?” Ada suara yang ditemaramkan luka.

Saya mengangguk.

Ini hari terakhir di ibukota, dan saya merasa sedih.

Advertisements