“Apa gunanya kesedihan yang diumbar?”

Saya menepuk punggung, mendekapnya beberapa saat sembari mengucap maaf. Nampak terkejut, ia bisikkan terimakasih. Baju dan celana gelap, juga bebatan kain hitam di tangan kiri. Murung mengungkung keruh matanya. Pagi itu, ia seperti monokrom diorama yang tertatih rapuh menanti jatuh. Sudahkah duka menjadikannya teman?

Saya kembali meminta maaf karena tak datang ke pemakaman istrinya dua hari kemarin.

“Tidak apa-apa”, lirihnya.

Di Timor Leste, kesedihan menjadi milik bersama. Aksesoris hitam wajib dikenakan mereka yang ditinggal pergi kerabat. Kerap ketika tengah mencari foto di tengah kota, lensa kamera saya menemukan kain-kain muram yang ditelan keramaian. Saya lepaskan bidikan, untuk menggali mata si pemakai, mengais duka yang tersisa. Kemudian bertanya.

Mengapa mereka sedang bergembira di taman kota?

Bukankah sedang ada yang perlu diratapi di doa sunyi?

Jadi, siapa yang meninggalkan siapa?

Di depan kawan dan senja yang berbeda, dulu lama sekali, juga pernah ada tanda tanya. Matahari tak lekas terbenam di sela detak percakapan. Antara kedai kopi dan ombak yang bersahutan, seruas jalan terbentang. Sepasang anak kecil membawa pasir di kaki-kaki telanjang, dari kanan mobil kencang membuyarkan lamunan pada kuncup-kuncup topi nelayan.

Saya kembali padanya yang berkacamata hitam capung dan tertutup sesak asap tembakau. Obrolan tentang seorang kawan yang kehilangan paman menggiring ke satu pertanyaan.

“Apa gunanya kesedihan yang diumbar?”

“Itulah adat kami.” Dia menyesap kopi seadanya, kembali berkata-kata. “Pakaian serba hitam dipakai tiga atau enam bulan, bisa satu tahun, tergantung seberapa dekat kita dengannya. Selama itu juga, kita dilarang berdansa dan berbahagia.”

“Akhir bulan tidak usah kugaji saja. Daripada dia bahagia.”

Dia tertawa. Saya tidak. Mengutuki diri sendiri yang begitu cepat menemukan guyonan dalam kematian.

Dia menyesap lagi, dalam. Abunya terbang, baranya berbayang. Pekat asap mengusir hangat udara, pantulan jingga di gagang cangkir, dan jejak-jejak senja lain. Dan dia belum berhenti. Dikisahkan lagi adat demi mengapresiasi mati. Pada kerbau, babi dan arak yang harus disiapkan keluarga besar. Tentang anak atau menantu yang sampai mengutang sana-sini untuk membayar persembahan adat.

Saya lepaskan kacamata. Mengurut lelah pangkal pelupuk mata.

Di Timor Leste, kesedihan menjadi hal yang rumit.

***

“Legalisirnya akan siap setelah makan siang.” Kalimat si kawan berpakaian hitam menyadarkan lamunan. Mengingatkan saya pada alasan kedatangannya sepagi ini.

Diorama gelap itu berjalan cepat keluar kantor. Segepok dokumen digenggamnya erat. Cepat saja mobilnya keluar parkiran untuk menghilang ditelan reyot taksi-taksi kuning dalam kota. Tak ada basa-basi kesedihan. Tak ada obrolan lebih lanjut tentang mendiang sang istri.

Pagi itu mungkin ia, seperti semua orang, sedang sibuk melupakan.

Advertisements