Seminar

Saya menekan slide terakhir, mengucap terima kasih. Lampu kembali menyala. Kelepakan tepuk tangan seadanya menutup lima belas menit presentasi.

Garis start kedua, sesi tanya jawab. Saya menghembuskan napas panjang.

“Why that fault gets terminated in the middle?” Tanya si supervisor sambil beranjak dari kursi.

Saya memainkan pointer. Berpikir.

“Is it caused by the basement fabric down there?” Kejarnya lagi.

Kini dia sudah berdiri tiga langkah di depan. Tangan bergelang kilau arloji mahal itu kembali mematikan lampu, lalu menyapu tembok kelas yang ditembak layar proyektor. Sesar normal hasil interpretasi saya berlindung di bawah hitam bayangan tangannya.

“Possibly, Chris.”

Possible. Maybe. Jika sedikit lebih yakin, gunakan probable. Geologi, dengan segala celah retorikanya, terjadi jutaan tahun silam. Di hadapan penampang seismik, semua jawaban berargumen menjadi mungkin. Tak pasti benar atau salah.

Seperti perasaan, geologi kerap bermain di area kemungkinan.

Ah, kemungkinan. Saya jadi teringat ucapan seseorang.

“Aku gak suka ketidakpastian. Kayak kamu, dan semua ini.” Ucapnya di depan gelas mocha, suatu ketika.

Dalam gelap, sekejap senyum hadir. Perlahan. Wajahnya dimiringkan ke kanan, tangannya bertautan di belakang. Ia berdiri menutupi Chris.

Sebentar, sudah berapa lama saya tidak minum mocha?

“I think,” Greg, salah satu penguji di kursi, mengusir lamunan, “it’s related to the distinct fault in the northwestern part there.”

Tangannya menunjuk layar. Dia sedikit mendongak agar mata senjanya tepat jatuh di fokus kacamata. Saya tahu arah keriput telunjuk itu. Ke sesar berarah utara-selatan di sudut kiri atas gambar. Distinct fault. Unik, karena di peta, arahnya seperdelapan lingkaran lebih tegak dibanding sesar lain.

Seorang penguji lain di samping Greg bergumam setuju.

“Yes that’s another possibility right?” Chris kembali berkomentar.

Chris Elders. Sebuah nama yang menjadi jaminan mutu interpretasi seismik. Entah seberapa dalam kantong yang dirogoh Curtin University untuk memboyong si profesor dari Royal Holloway London. Dari kota beratap langit abu-abu di sisi utara sana, Chris, pria Inggris yang gemar berkemeja biru langit senada dengan warna matanya, terbang ke Perth untuk membuka jurusan baru.

Kini, di seminar tesis tiga tahun kemudian, dia berdiri di hadapan saya. Seorang geophysicist yang sedang membual soal struktur dan evolusi cekungan. Demi satu gelar baru.

Geologist.

“Yes that’s another possibility.” Chris menutup tanyanya sendiri. Selanjutnya dia berbicara pada seisi ruangan untuk membuka pertanyaan baru.

Dua ucapan possibility dalam sepuluh detik. Saya terbahak dalam hati. Ingin rasanya merogoh ponsel dan menelepon si wanita dari masa lalu.

“Hei dengarlah! Bahkan seorang profesor pun dua kali ngasih ketidakjelasan di seminarku!”

Dan saya terpaku.

Dalam remang, saya seperti melihat ia duduk diantara penonton. Di bangku sisi kanan yang kosong, seorang diri. Ia tersenyum dan mengangguk. Seperti bisa mendengar apa yang belum saya katakan.

Sudah berapa lama saya tidak minum mocha?

Saya mengusap wajah, membetulkan posisi kacamata.

“I think your previous map gives a better angle.” Ada kalimat dalam gelap.

Saya menyapu ruangan, meraih sumber suara. Dari sudut kiri baris ketiga.

Saya memajukan dua slide. Peta kini berteriak dalam tiga dimensi. Lekuk sesar bisa digali lebih baik dari sudut ini. Kemudian saya berbicara dua tiga kalimat.

Chris masih di sana, lalu mengangguk ke arah saya. Satu detik selanjutnya kami masih saling menatap dan menunggu siapa yang ingin berkomentar. Dia, disinari proyektor, dengan perut buncit hasil proyek seismik disana-sini. Dan saya, pria tanggung yang makin dikuruskan Ramadhan.

Tiga detik. Tak lagi ada yang bertanya.

“Oke we go to the fourth presenter.” Katanya.

“Thank you, Chris.” Saya berjalan ke komputer untuk mengambil kertas contekan presentasi. Berkemas.

Saya menatap penonton untuk terakhir kali. Lampu menyala.

Ia sudah tidak ada.

Dan saya masih harus menunggu Magrib untuk mencari mocha.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,568 other followers