Nasi Kucing

Dua jarum jam belum menyatu di langit-langit waktu ketika kami berdua menyerah di warung nasi kucing terakhir. Tak ada lagi bungkusan nasi, malam hanya menyisakan pisang goreng dingin dan tiga cerek yang akan terus menerbangkan uap pengap. Kondisi yang sama kami temukan di sekian pedagang nasi kucing lain. Saya mengernyitkan dahi. Mana mungkin sepagi ini habis. Saya merasa seperti pendatang yang tak tahu apa-apa soal Semarang.

Tertunduk lesu, saya memesan wedang ronde. Kawan saya kopi susu jahe. Mendengar pesanannya, kali ini saya merasa menjadi pelanggan warung nasi kucing kemarin sore.

“Bagaimana kabarmu?”

Saya bertanya membuka drama. Dia memberi jawab keadaan kantor dan kota perantauan. Tentang keluhan dan tiupan mimpi yang belum menubruk bintangnya.

Dua jam sebelumnya, di restoran lain, kami telah mengobrol panjang lebar dengan sekelompok kawan berbeda. Menertawakan kebodohan lama dan masa lalu di sekitarnya. Setelah milkshake dan kentang goreng yang membosankan, kami lebih leluasa bertanya kabar ketika akhirnya bicara berdua.

Saya menyendok kolang-kaling dan butiran kacang di mangkok ronde, hangat menyapu lidah, bau pedas jahe menusuk hidung. Suara berat dalang berloncatan dari bunyi kresek radio di balik gerobak kayu, wayang sedang mengisi frekuensi. Intonasinya khas, melayang-layang mengikuti gerakan uap cerek. Ah, suasana ini…

Saya mengail potongan ingatan, sekitar delapan tahun silam. Di pertemuan perdana, guru Bahasa Jawa meminta kami sekelas menulis mimpi setelah lulus. Ditulis di halaman pertama buku, agar kami bisa terus menjenguknya setiap memulai pelajaran. Saya ingat sekali membual ingin berkuliah di ITB ketika itu, serta apa saja yang harus digenapkan setahun ke depan. Saya melihat ke kawan sebangku, tatapannya masih tenggelam dalam tulisan, sungkan bertanya padanya yang belum terlalu akrab.

“Bagaimana disana? Betah?”

Dia balik bertanya. Saya bercerita tentang kampus dan dosen yang menyenangkan. Serta beberapa target jangka pendek di negeri orang.

Segerombolan anak muda datang, memotong omongan saya yang menanyakan sesuatu. Mereka mendesah kecewa mengetahui nasi sudah habis. Satu orang mencomot pisang goreng, minyaknya melumeri jari, berkilauan ditempa cahaya. Seorang lain mengambil sebatang rokok.

Kawan saya tersenyum mendengar pertanyaan saya, sambil memperbaiki letak kacamata.

“Aku pernah dekat dengan cewek, Re. Sayang, terlambat sedikit saja.”

Lalu dia bercerita panjang lebar, sekali menyebutkan nama yang tidak saya kenal. Saya seperti menikmati Christopher Nolan saat mendengar kisahnya yang beralur maju-mundur. Mengangguk sesekali. Tentang seorang gadis yang perlahan muncul, memberi harapan, saling memendam. Dan pernyataan yang terlambat.

“Sesuatu jadi terasa berharga setelah tidak lagi ada, Re.”

Saya tertawa. Kisah cinta mana yang tidak menghadirkan klise?

Saya mematahkan kepala, melemaskan leher. Sudut mata melihat si pedagang yang mengipasi cerek. Gemeletuk arang menggumamkan irama berpola. Tertebak. Seperti tanda tanyanya setelah ini.

“Bagaimana milikmu?”

“Aku sudah bertemu seseorang.”

Lalu keluarlah kisah perjalanan itu, yang mempertemukan saya dengan seseorang. Juga hari-hari selanjutnya. Pun tentang penolakan itu.

Dia sedikit terkejut. Sebelah kacamatanya memantulkan gelap di luar tenda.

“Lalu, sekarang bagaimana?”

“Ya masih ke dia. Belum kepikiran nyari yang lain.”

Dia tertawa, terbahak. Saya tersenyum miris. Sekarang, delapan tahun sejak masa itu, kami kembali duduk sebangku, saling menertawakan nasib.

Saya menandaskan ronde, melahap mochi terakhir di mangkok. Kenyalnya mengingatkan pada marshmallow di secangkir cokelat panas café kampus di Perth. Saya melirik tanggal di arloji, menghitung hari. Sebelum terbang melintasi zona waktu akhir pekan nanti.

Terbayang jarak ribuan kilometer yang terbentang. Dengan rumah. Juga dengan seseorang.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 269 other followers