Tiga Bulan Kemudian

“Aku berusaha banget menjaga track record, Mas. Jangan ada celah.”

Menjadi seorang pengingat, terlebih penepat, selalu melelahkan. Janji basa-basi di kabel telepon, tiga bulan yang lalu, membawa saya ke ujung timur Pulau Jawa. Disini saya sekarang, duduk tegak, bercakap dengannya melahap kedap helm.

“Tahu kenapa Batman gak nikah?”

Dia menengok sejauh mungkin ke kanan. Meraih suara saya yang berdesakan dengan klakson dan deru knalpot. Dia mengambil lajur kiri, memelankan motor.

“Kenapa, Mas?”

“Karena dia tahu keluarga bakal jadi titik lemah.”

“Tapi bukan berarti aku gak bakal nikah, Mas.”

Kami tertawa. Membias udara malam, aroma sesak kota.

Di enam bulan terakhir, sudah dua kali saya berkunjung ke kota ini, dan menikmatinya. Jalan satu arah tanpa macet. Bersih. Taman rindang. Pantai tak dekat dan tak jauh. Makanan khas berkarakter.

Dirinya, anak muda yang berkeras menggunakan helm SNI itu, ialah Surabaya dalam versi yang lebih kecil. Teratur. Harus teratur, mungkin. Karena baginya, hidup adalah masalah yang harus diselesaikan.

“Kamu tahu, Mas, tiap waktuku harus berhadapan dengan masalah. Pagi siang di kantor, malam di kelas, tengah malam di tugas kuliah,” dia tiduran berbantalkan kedua tangan, “semuanya masalah.”

Entah apa respon yang benar, namun saya tertawa kecil. Sudah tengah malam. Kami berakhir di kamar kosnya ditemani komentator bola kaki yang terlalu bersemangat.

“Bukannya hukum itu soal pasal ya? Kalian hanya adu lempar pasal bukan di pengadilan?”

“Jangan hanya terpaku pada norma, namun juga substansi. Hukum lebih dari itu, Mas. Hukum itu,” dia mengambil jeda, “the art of living.”

Kacamata itu tidak bisa membendung matanya yang begitu passionate. Baginya, hukum adalah hidup itu sendiri. Dia tersenyum, menerawang.

Saya banyak membaca apa yang sedang terjadi saat ini, minggu lalu, bulan lalu. Suara dijual, ketokan palu diberi harga, pemimpin lembaga hukum tertinggi dibui. Saling serang. Saling pegang kartu. Hukum dicoreng yang berkepentingan.

Lalu saya melihatnya, sedang mengucek mata, mulai menyerah pada malam. Tubuh itu perlu istirahat setelah seharian menemani saya menyelami sudut kota. Tiba-tiba saja ingatan itu muncul. Tadi di sebuah persimpangan, dipotong dengung kereta yang menyela jalan, dia berkata siap untuk hidup di Jakarta. Suatu waktu. Serta target hidup yang ingin diraihnya dalam satu, dua, dan lima tahun mendatang.

Jakarta, bagi saya, adalah sebuah ketidakaturan yang tak teratur. Saya membayangkan langkah cepatnya yang bertarung dengan waktu. Entah jam yang tertera di mesin absen atau detik digital di traffic light. Memilin mimpi dalam penantian.

Saya masih ingat penantiannya yang lain, ketika bingung menyatakan perasaan pada seorang gadis. Suara bergetar itu terasa familier, seperti saat saya jatuh hati, pada sebuah masa. Percakapan yang dia akhiri dengan tidak melakukan saran saya, yang baru tiga bulan kemudian diakuinya. Telepon yang ditutup dengan janji, yang membawa saya ke Surabaya, tiga bulan kemudian.

“Besok keretaku pagi.”

“Iya, Mas. Bareng ke kantor aja.”

Dia membuka tas, mengeluarkan buku tipis. Halaman putih di dalamnya sudah lecek oleh huruf yang menari. Hitam putih yang berbeda dengan warna-warni halaman depan. Seperti dirinya yang menggenjot peluh dan target, bermimpi tinggi, mengkhianati masa muda yang penuh warna dan kesalahan. Ditulisnya agenda besok, seperti hari-hari kemarin. Lalu menutup catatan, halaman depan menggambarkan seekor panda yang bersepeda.

Lampu dimatikan, TV dibiarkan menyala, dengung AC muncul ke permukaan. Akhir pekan telah berakhir.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 254 other followers