Espresso

Aku bakal minum espresso, nanti, waktu patah hati

Satu tegukan kecil espresso milik teman, suatu ketika, dan guyonan itu berhamburan saja keluar dari lidah. Tempo hari, saya sedang menikmati chai latte saat memori tadi mendadak hinggap. Saya mematahkan leher sembari melihat arloji. Satu jam lagi kelas akan selesai. Setengah babak terakhir dari tiga kelas beruntun di Senin pagi. Saya memandangi jendela lebar di sisi, satu dua pohon menyela deretan gedung kampus, timbul tenggelam seperti layang-layang. Ranting yang ditinggalkan daunnya itu mengingatkan pada marka jalanan Bandung jam dua pagi. Kedinginan dan sendiri.

Saya kembali meminum chai latte, aroma kayu manis menyeruak di hidung. Saya melepas kacamata, lalu menoleh ke tiga bangku di samping kanan. Duduk seorang gadis, disapu sekelumit cahaya. Ombak bergemuruh.

***

Ia menulis sesuatu, lalu meneguk sebotol besar jus jeruk. Ia memajukan kursi, memberi spasi pada yang lewat, menulis lagi. Tangannya merapikan rambut yang menusuk tengkuk, lalu memainkan bulpen dan ponsel. Kelas sedang rehat, mayoritas mahasiswa keluar mencari kopi dan kamar mandi. Namun tidak dengannya. Tidak juga dengan saya.

Memainkan segala partitur yang ada di meja adalah caranya menghabiskan waktu. Memandanginya melakukan itu semua adalah cara saya memberdayakan waktu. Saya memainkan tirai, merasa beruntung matahari menjadikan tubuh ini sebagai siluet.

Di meja sunyi ini, kami seperti dua orang asing yang hanya mengerti bahasa masing-masing. Saya kembali melirik arloji. Tak banyak waktu istirahat yang tersisa.

***

“Sawa dii kab.”

Saya meliukkan badan melewati kursi kosong, lalu berkata sambil menangkupkan tangan. Menyapa dalam cara mereka adalah jalan termudah saya membuka percakapan, sekaligus mengagetkan si lawan. Ia berbalik, tersenyum lebar,

“Hai, apa kabar?”

Gantian saya yang terkejut.

“Can you speak my language?”

“Just a little bit. Apa kabar? Ni hao ma?”

Saya nyaris tidak berkedip. Kesedihan telah mengajarkan saya untuk mengerti arti setiap senyum. Senyum seketika yang lekas disembunyikan saat mendengar kesulitan orang lain. Senyum simetris berteman lekukan mata setelah mendapat jawaban pengakhir penantian. Senyum simpatik yang diikuti cengkeraman bahu penanda ekspektasi yang digagalkan kenyataan.

Namun miliknya… berbeda. Seperti telah dan selalu ada disana sebelum dia berbicara. Menempel di rona, beterbangan di udara. Senyumnya tak perlu palung lesung untuk menghentikan waktu. Dan lihatlah sepasang mata itu, mereka menebar kebahagiaan. Beningnya berpantulan di botol minum, lantai, dan melesat menembus kaca yang berbatas tusukan angin. Saya melihat jendela, langit terlampau terang untuk musim dingin, awan tak berarak. Apa Tuhan juga sedang tersenyum di balik biru itu?

***

Dua hari kemudian.

Kami sedang berada di kelas praktikum malam itu. Satu jam mengulik software, kubus kuning-coklat khas penampang seismik terhampar dan kursi kami sudah saling memutar.

“Club Friday is a radio program. Two radio announcers will listen to your problem and try to solve it.”

Ia menggunakan tangan sebagai gagang telepon, lalu mengatakan sesuatu. Dua tiga kata asing yang menggantung di akhir. Entah apa.

“Like in the Hello Stranger. You said you’ve watched that movie, right?”

Tiga setengah jam setelah kalimatnya itu, saya baru ingat memang pernah mengatakannya dua hari yang lalu. Saat mengobrol tadi saya hanya terpaku melihat matanya, berbinar seperti gemintang. Ingin sekali rasanya memeriksa langit, berapa bintang yang ia sisakan di atas sana?

Hardisknya masih mencolok di komputer, saya lekas mengembalikan kondisi.

“Do you have Thailand movies in your drive?”

Ia tersenyum, kali ini tanpa perlu menampakkan gigi. Ombak bergemuruh. Saya tak perlu menengok jendela.

***

Tujuh hari kemudian. Di kelas yang sama.

“You know she has a boyfriend, right?”

Seorang kawan mengatakannya tanpa merasa bersalah. Kesedihan mengajarkan saya untuk handal memanipulasi kesedihan itu sendiri.

“Oh, oke.”

“Yeah, he is a…”

Sudah tak terdengar lagi apa yang dikatakannya, dengung teman-teman sekelas menguasai telinga. Pandangan saya mendarat pada sang bidadari yang berjalan masuk. Jaket dan sweaternya berwarna kelabu senada, seperti langit di luar. Tuhan tak lagi tersenyum di balik pucatnya.

Dan saya butuh double espresso, segera.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 271 other followers