Mereka

Pernahkah terpikir bagaimana bisa kenangan begitu saja hadir ketika menyelami mata sendiri?

”You look like my uncle.” Katanya, tersenyum. Mata sipit itu makin menghilang, dalam.

Satu detik. Dua detik. Saya hanya berkonsentrasi pada kartu di tangan. Kami sedang bermain Ticket to Ride, para pemain berlomba membangun trayek penghubung kota seantero Amerika Serikat. Saya menghitung miniatur bus hitam yang tersisa, lalu menjelajahi warna-warni bus lain di papan permainan. Ia tertawa bersama suaminya, sama-sama mengerti siapa uncle yang dimaksud. Ternyata saya belum membalas kalimatnya tadi.

“Oh, he must be handsome then.”

Enam orang lain tertawa. Berpantulan di gelas kaca, membangunkan kucing di karpet apek.

“That’s a good one, Rean.” Kata wanita di sebelah, jemari gempalnya menimang bus hijau.

Saya masih tenggelam dalam kartu, tersenyum lega. Akhirnya, setelah sekian lama. Saya hampir lupa kapan terakhir kali bisa membuat segerombolan orang kompak tertawa seperti ini.

Mendadak meja makan menghilang. Peta Amerika Serikat berubah menjadi hitam putih rumus capillary pressure. Abjad Yunani dan alfabet duduk berdampingan, tapi berjarak, seperti dua orang asing yang hanya tahu bahasa masing-masing.

Saya sudah berada di kelas.

Saya tahu benar benda membosankan yang terbuka di hadapan. Buku catatan. Adalah harganya yang selalu mengingatkan. Selembar biru $10 itu bisa menebus dua novel best seller Indonesia, atau cizz cake untuk dessert seminggu, atau dua kali nonton bioskop bersama dia.

Saya ingin terus mencari perbandingan kebahagiaan jika tidak diganggu kawan sebelah.

“Hey look, that guy is so rich.”

That guy yang dimaksud duduk di kursi depan, menata tugas yang baru dicetak. Semuanya berwarna. Bahkan untuk gambar kecil yang tak banyak mengubah hasil akhir. Saya jadi ingat keletihan tempo hari, mengurus ini itu untuk kartu percetakan kampus demi diskon mahasiswa.

“No idea whether he is rich or stupid, man.”

Tangannya menutup mulut, menahan diri untuk tidak tertawa. Dosen hanya tiga meter di depan kami. Beliau sedang menjelaskan gambar fluida di slide dengan intonasi Timur Tengahnya yang menanjak di akhir. Saya baru tahu air di pusat aliran berlari lebih kencang daripada koleganya di tepian. Setelah dua puluh empat tahun. Kemana saja.

“You’re so mean.” Katanya setelah si dosen sedikit menjauh.

###

Di penghujung sore itu, saya sedang terombang-ambing di decit rem bus kampus ketika mengingat semuanya. Langit nyaris berselimut malam, namun rumah-rumah di kawasan Bentley belum menyalakan lampu teras. Mereka tahu bagaimana mengais sisa senja. Lampu koridor bus terlampau terang, jendelanya memantulkan para penumpang. Kami seperti etalase berjalan yang menawarkan wajah lelah.

Saya mencoba merunut nomor rumah di luar, takut tersasar, tapi gagal. Cahaya berlebihan ini malah membuat saya bercermin. Kemudian mengingat lelucon-lelucon kosong itu.

Pernahkah terpikir bagaimana bisa kenangan begitu saja hadir ketika menyelami mata sendiri?

Saya senang menertawakan hidup, meski tidak selalu menjadi orang terhumoris di meja makan. Saya jadi ingat kenangan lain, di masa lalu yang terjadi lebih dulu.

Tentang seorang kawan yang tersipu saat diberi penjelasan apa beda kuah ramen soyu dan miso. Restoran Jepang bertebaran di Bandung, pilihan rasanya toh itu-itu saja. Wajar ia malu. Sebenarnya saya juga tidak terlalu paham ramen, namun kesempatan mengintimidasi tidak sering ada. Satu dua kalimat penuh tekanan, dan dua orang lain tergelak lepas.

“Aku bakal kangen kelakuan preman kamu, Re.” Tawanya, sambil menunjuk-nunjuk.

Dan sekarang malah saya yang kangen mereka. Juga mereka-mereka yang lain di Bandung.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 260 other followers