Jalan-jalan ke Singapore

Singapore. Negara kecil yang selalu disesaki turis mancanegara sepanjang tahun. Berjarak tidak sampai dua jam terbang dari Jakarta, Singapore tercatat menjadi destinasi wisata luar negeri terfavorit bagi warga Indonesia, juga menjadi salah satu rute penerbangan internasional tersibuk di dunia. Belanja barang-barang branded, kota yang ramah pada manusia, juga spot wisata bersih dan fotogenik. Dua kali berkunjung kesana di Januari dan Agustus 2017, kali ini saya sempatkan untuk menuliskan catatan perjalanan.

Tulisan akan dibagi per hari, dimana destinasi yang saya kunjungi akan diulas satu per satu.

###

Hari ke-1, 18 Agustus 2017

Semarang, Singapore, Mitraa Inn Hostel

16.00 – 18.40 Semarang – Singapore

Dalam seminggu ada empat kali penerbangan Air Asia Semarang-Singapore return di hari Minggu, Senin, Rabu, dan Jumat. Pesawat delay sampai satu jam ketika itu. Kami baru mendarat di Changi International Airport hampir jam 8 malam.

Sebagai informasi, saya memesan tiket melalui aplikasi Air Asia di Android. Semua aktivitas, membeli in-flight meal dan nomor kursi, sampai pembayaran saya selesaikan di aplikasi tersebut.

20.00 – 21.00 Imigrasi

Karena terminal bandara Changi yang cukup jauh dari gerbang dan antrian panjang penumpang di imigrasi, terlebih saat itu weekend, kami butuh hampir satu jam sampai keluar ke lobby kedatangan. Proses imigrasi berlangsung singkat, petugas hanya bertanya tinggal dimana dan kapan pulang. Saya tunjukkan bukti booking hotel dan stempel visa diberikan. Pemegang paspor Indonesia diberikan bebas visa Singapore untuk 30 hari.

21.00 – 21.40 Bandara – Hotel

Kami menggunakan MRT untuk mencapai hotel. Namun MRT hanya bisa diakses di Terminal 2 dan 3 bandara. Dari Terminal 1 disediakan kereta gratis untuk menuju ke terminal lain. Bandara Changi sangat memudahkan di segala hal, wifi gratis dan kencang, daftar restoran halal ada di directory, petugas berbahasa Inggris.

Sebelum menggunakan MRT, sebaiknya pengunjung membeli kartu yang bisa ditop-up saldo. Namun loket tutup karena terlalu malam, akhirnya kami membeli tiket sekali pakai di mesin. Pengunjung hanya memilih stasiun MRT tujuan dan harga tiket akan ditampilkan di layar.

Singapore ramah bagi turis. Transportasi massalnya rapi, harga terjangkau, dan ontime. Dalam mempersiapkan rencana perjalanan, baiknya sudah menandai tujuan wisata sekaligus stasiun MRT terdekatnya. Saya sampai mencetak peta jalur MRT.

MRT 3

Kami menginap di Mitraa Inn di daerah Little India, dengan stasiun MRT terdekat Ferrer Park. Kami memesan satu kamar enam bunk-bed plus kamar mandi dalam, dengan harga sekitar tiga juta rupiah untuk tiga malam. Saya cukup merekomendasikan Mitraa Inn. Free wifi dan sarapan, ada toko kecil di lantai bawah, berjarak lima menit dari stasiun, juga dekat dengan restoran halal 24 jam.

###

Hari ke-2, 19 Agustus 2017

Orchard Road, Kinokuniya, Masjid Sultan, Singapore Zam Zam, Lau Pa Sat Festival Market

10.00 – 12.00 Orchard Road dan Kinokuniya | MRT Somerset atau Orchard

Kelelahan perjalanan semalam, kami memulai hari agak siang. Destinasi pertama kami ke Orchard Road yang hanya berjarak tiga stasiun. Kami masuk dan keluar mall, menikmati pedestrian yang lebar dan nyaman untuk berjalan kaki. Kawasan Orchard memang diperuntukkan bagi traveler yang senang berbelanja. Ada jejeran mall dengan toko-toko yang menjual barang bermerek, meski banyak juga yang bisa ditemukan di Indonesia. Soal harga rasanya tidak berbeda jauh ketimbang di Jakarta.

DSC06270

Tujuan utama saya ke Orchard adalah Kinokuniya Book Store yang teletak di Ngee Ann City Mall. Kami menghabiskan satu jam untuk berbelanja buku dan hiasan meja. Berdasar pengalaman mengunjungi cabang Bangkok, Kuala Lumpur, dan Jakarta, soal koleksi buku Kinokuniya KLCC masihlah yang terbaik.

13.00 – 15.30 Singapore Zam Zam dan Masjid Sultan | MRT Bugis

Kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Sultan. Terletak di kawasan muslim Kampong Glam, banyak turis yang berkunjung kesana dan memotret aktivitas di dalam masjid. Kami makan siang di salah satu restoran halal favorit, Singapore Zam Zam. Kami memesan nasi briyani ayam dan kambing, dengan tambahan martabak.

DSC06294

Kawasan Kampong Glam cukup nyaman bagi pecinta kuliner. Di seberang masjid ada lorong jalan yang berisikan cafe-cafe halal di kanan kiri, dengan deretan kursi yang ditaruh di trotoar lebar. Meski masih kalah pamor dibanding keramaian lain di Singapore, jika ada waktu luang agendakan untuk menyelami Kampong Glam. Kami juga sempat membeli beberapa cinderamata seperti gantungan kunci, magnet, dan bendera Singapore.

19.30 – 21.00 Lau Pa Sat Festival Market | MRT Raffles Place

Kami keluar hotel untuk makan setelah jam 7 malam. Lau Pa Sat Festival Market berjarak sekitar 20 menit menggunakan MRT. Berupa foodcourt indoor besar yang berisi kios-kios pedagang dan meja kursi di antaranya. Cukup banyak makanan halal, terlebih pedagang Malaysia yang menjual sate dan ikan bakar. Kami berenam berpencar untuk memilih makanan sendiri untuk dibawa makan bersama.

Lau Pa Sat tidak terlalu ramai, banyak ruang untuk bergerak dan memilih meja makan. Pun saat kami berjalan pulang menuju MRT Raffles Place, kawasan gedung perkantoran sepi dari lalu lalang orang.

Saya pribadi tidak merekomendasikan tempat ini, masih ada area kuliner lain yang lebih memorable seperti Clarke Quay.

###

Hari ke-3, 20 Agustus 2017

Universal Studios Singapore, Adam’s Corner Seafood, Merlion Park, Helix Bridge, Marina Bay Sands, Gardens by the Bay, Old Hen Coffee Bar

09.00 – 13.00 Universal Studios Singapore, VivoCity Mall | MRT Harbourfront

MRT cukup sesak. Ternyata saat itu hari Minggu sehingga banyak wisatawan yang juga berkunjung ke Universal Studios. Turun di MRT Harbourfront, kami masih harus berjalan kaki menuju VivoCity Mall untuk naik kereta khusus Sentosa Express ke Sentosa Island.

Di depan bola raksasa Universal Studios yang legedaris itu, kami sibuk mengambil foto.

DSC05108

Meski hanya di luar, kami puas berfoto-foto dengan pemandangan lainnya. Saya lihat juga tidak semua pengunjung masuk ke Universal Studios-nya, mengingat tiket masuk yang lumayan mahal. Setelahnya, kami menghabiskan lebih dari satu jam untuk memborong coklat di Candylicious.

DSC05105

15.00 – 16.00 Adam’s Corner Seafood

Kami bersyukur memilih hotel yang tepat karena dekat restoran halal 24 jam, Adam’s Corner Seafood. Selama tiga malam di Singapore, paling tidak kami mampir ke restoran ini tiga kali, baik untuk makan siang atau malam. Adam’s Corner menjual beragam makanan citarasa Melayu, seperti nasi briyani, mi laksa, nasi goreng. Minuman mulai dari teh tarik, es Bandung, soda, sampai kopi.

Sangat recommended bagi yang rindu masakan Indonesia, juga porsinya cukup menggunung.

17.00 – 20.00 Merlion Park, Helix Bridge, Marina Bay Sands, Gardens by the Bay | MRT Bayfront atau Marina Bay

Malam terakhir kami habiskan dengan berkunjung ke kawasan Marina Bay yang menjadi ikon Singapore. Pengunjung bisa memilih turun di MRT Bayfront atau Marina Bay untuk selanjutnya berjalan kaki untuk mengelilingi Merlion Park, Helix Bridge dan Gardens by the Bay yang letaknya berdekatan. Merlion Park bagus dikunjungi baik siang maupun malam hari, dan entah kapan pun itu pengunjung selalu terlihat ramai berfoto-foto disana.

DSC05136

Dari Merlion Park, Marina Bay Sands juga bisa dinikmati dari kejauhan.

DSC06320

Perlu berjalan cukup jauh untuk mencapai Gardens by the Bay yang terletak di ‘belakang’ Marina Bay Sands. Tempat ini bagus dikunjungi malam hari, ketika permainan lampu mengudara dalam gelap.

DSC05186

Semua tempat ini gratis untuk dikunjungi. Di Gardens by the Bay sendiri pengunjung bisa naik untuk menikmati pemandangan lampu dari ketinggian, namun dikenai biaya tiket.

Setelah lelah berjalan seharian itu, kami pulang ke hotel. Usahakan memakai sepatu jalan yang nyaman dan pakaian yang nyaman di iklim tropis. Saya mengunjungi Singapore pada dua musim berbeda di Januari dan Agustus, namun sama saja gerahnya.

20.30 – 21.00 Old Hen Coffee Bar

Hanya berjarak tujuh menit berjalan kaki dari MRT Ferrer Park, saya menyempatkan diri mampir ke Old Hen Coffee Bar untuk menyesap kopi. Saya memesan mocha dan duduk sebentar sebelum tutup. Rasanya nikmat sekali minum hangat di udara sejuk, selepas dihajar gerah seharian tadi.

Mudah mencari kopi di Singapore. Saya menemukan cafe setiap berjalan 1-2 blok. Tidak sampai setengah jam di cafe, saya pulang ke hotel untuk packing barang bersiap check out keesokan hari.

###

Hari ke-4, 21 Agustus 2017

City Square Mall, Brunches Cafe, Changi Airport, Semarang

09.00 – 10.00 City Square Mall

Di pagi hari kami hanya ke City Square Mall dekat hotel untuk berbelanja sebelum pulang. Tidak sebesar mall di Jakarta memang, namun tetap ada beberapa toko brand terkenal dan makanan enak.

10.00 – 10.30 Brunches Cafe

Saya mencoba kopi Brunches Cafe yang hanya berjarak 20 meter dari cafe semalam. Tidak banyak pengunjung pagi itu, nampaknya karena belum jam makan siang. Rasa kopinya tidak berbeda jauh, juga harganya yang berkisar 5 SGD.

11.00 – 12.00 Perjalanan ke Changi Airport

Menggotong koper dan ransel, kami kembali melakukan perjalanan panjang ke Bandara Changi menggunakan MRT. Tercatat 3-4 kali kami berpindah jalur MRT, tidak masalah karena ini memang cara termurah menuju bandara 🙂

Sebagai catatan untuk pengguna Air Asia, dan mungkin maskapai lain. Sebaiknya melakukan online check-in untuk menghindari antrian panjang di counter check-in. Penumpang yang sudah check-in melalui website, hanya perlu menuju mesin pencetak boarding pass dan memasukkan kode booking. Jika membawa bagasi, juga ada loket terpisah dari antrian penumpang yang belum check-in.

Ditambah pesawat yang delay, kami menunggu sekitar 2-3 jam di bandara.

18.00 Bandara Ahmad Yani Semarang

Semarang sudah cukup gelap ketika kami mendarat. Lepas dari loket imigrasi, ada 1-2 petugas yang bertugas bertanya random sembari mengecek paspor. Bagasi tidak ada masalah meski kami membawa banyak oleh-oleh coklat.

Libur telah usai. Sampai jumpa di jalan-jalan lainnya!

Advertisements