
Saat berada di seperempat awal novel, saya sempat berpikir untuk menyudahinya saja. Alur terasa lambat dan diksi kalimat tidak sebegitu indahnya. Tapi, entah mengapa saya memaksakan diri untuk meneruskan hingga seperempat bagian berikutnya. Lalu berlanjut tuntas hingga halaman terakhir.
Pertemuan Dua Hati is a kind of book that I never knew I needed.
Konflik ceritanya cukup sederhana. Tentang seorang guru SD asal Purwodadi yang pindah mengajar di Semarang karena mengikuti suami berpindah tugas. Bu Suci, perempuan desa yang menjadi guru karena mengikuti saran orang tua ini, lalu dihadapkan pada beragam permasalahan lingkungan. Mulai dari adaptasi terhadap cara belajar siswa di perkotaan hingga menerima kondisi anak bungsunya yang sakit berkepanjangan.
Cerita menjadi lebih kompleks ketika Bu Suci mendapati seorang muridnya tidak pernah masuk sekolah. Waskito, nama si murid yang belum pernah ditemuinya itu, dikenal sebagai anak orang kaya yang suka mengacau di dalam kelas, bahkan sampai memukul teman-temannya. Tidak seperti guru-guru lain yang mengambil sikap menjaga jarak, Bu Suci memilih untuk tenggelam dalam kehidupan Waskito. Dia datangi rumah kakek-nenek Waskito untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai watak sang anak.
Sometimes in life, good things arrive at the right time, just like this book.
Diri saya di 10 tahun lalu tentu akan menghentikan novel ini di seperempat perjalanan. Tapi minggu lalu, mendalami konflik batin Waskito menjadi perjalanan spiritual mengasyikkan yang tidak pernah saya perkirakan akan ada sebelumnya. Tentang bagaimana Waskito yang haus kasih sayang keluarga dan akhirnya mencari pengakuan di sekolah. Tentang bagaimana kedua orang tua Waskito yang ternyata masih belajar membesarkan anak dengan benar. Karakter Waskito adalah hasil pergolakan antara keluarga dan lingkungan luar.
Pertemuan Dua Hati mengajarkan bahwa anak adalah entitas unik yang membutuhkan cinta dalam beragam bentuk. Seorang anak juga memiliki lika-liku masa lalu, meski belum sepanjang milik orang dewasa.
***
Saya sedang memangku Nendra di bangku samping pintu masuk sebuah toko mainan ketika kisah Bu Suci dan Waskito terlintas di kepala. Istri saya sedang membayar di kasir dan Nendra terlihat tidak sabar menanti mainannya. Sejam yang lalu, dia tidak segirang ini. Saat masuk ke toko mainan tiga lantai ini, Nendra mencengkeram lengan saya dan tidak ingin turun dari gendongan. Setelah berputar beberapa menit di lantai dua, barulah dia mau turun dan berlarian menyusuri lorong-lorong riuh mainan kanan kiri.
Meski usianya baru dua tahun, saya tahu benar Nendra punya masa lalu yang membuatnya butuh waktu beradaptasi di tempat baru. Sehingga kami sering mengajaknya keluar dan menuntunnya dalam keramaian. Beberapa berhasil, beberapa berakhir dengan tangis kencang. Menemani perjalanan hidup Nendra yang baru seumur jagung adalah perjalanan penuh warna yang saya nikmati betul karena tidak ada panduan tertulisnya.
Lalu saya bayangkan di luar sana, ada orangtua-orangtua lain yang juga sedang melakukan perjalanan spiritual bersama anak-anaknya. Lika-liku dan titik batu terjalnya mungkin lebih menantang dari yang saya alami. Anak adalah entitas kompleks yang butuh dipahami.
Seperti Nendra. Seperti Waskito.