Melupakan

Senyum berpendar. Potongan ombak pantai menjadi latar. Jemari terpagut, saling mengejar.

Kadang saya kagum dengan mereka yang cepat move on. Menghilang beberapa malam, lalu kembali berbaur dalam keramaian. Seperti tidak pernah ada makian yang menutup hari, menggulung layar panggung. Seperti tidak pernah ada yang terluka, atau melukai.

Saya ingin duduk menyesap kopi pahit bersama mereka. Saling bertukar angan dan kesedihan di penghujung malam. Melihat dunia dari kemiringan lensa yang berbeda. Bertanya bagaimana caranya melupakan, selanjutnya lekas berpindah ke lain hati. Mungkin obrolan akan berhenti disana-sini, mungkin saya akan memukul meja beberapa kali. Karena jelas, kita memiliki definisi rasa yang berbeda.

Apakah cinta adalah cinta ketika ia mudah dilupakan?

**

“Bagaimana menurutmu, Re?”

Saya baru saja mendengarkannya merangkum peluh berminggu-minggu menjadi enam menit cerocosan. Dan tiba-tiba tanya itu dilempar. Saya bergumam, mencari jeda untuk berpikir. Membaca lagi poin-poin yang saya tulis. Beruntung obrolan ini via telepon, dia di seberang samudera sana tentu akan tertawa melihat saya yang mencatat curhatan orang.

Si cowok begini. Terakhir berantem masalah itu. Komentar teman-teman lain seperti ini. Baiklah. Waktunya berpendapat. Saya akan mengatakan apa yang ingin saya katakan, tanpa basa-basi dan memang jarang berbasa-basi untuk masalah hati seperti ini.

“Oke, jadi gini..”

Mendengar tiga kata pembuka itu, saya jadi ingat gurauan mantan dosen Bahasa Indonesia di ITB.

Coba dengar apa kata para politisi itu. ‘Jadi gini’. Masak di awal kalimat udah pake ‘jadi’.

Kami sekelas tertawa, puas. Suaranya berpantulan di kursi-kursi kayu lapuk. Berjatuhan di tangga GKU Barat yang menyebar tak beraturan di seantero sisi gedung. Kita memang tidak bisa untuk tidak tertawa kencang saat membicarakan dua hal: politisi yang entah-mengapa-selalu-tampak-bodoh dan orang yang mendadak bodoh karena jatuh cinta.

Seperti kawan saya.

“Jadi menurutmu sebaiknya udahan aja, Re?”, tanyanya setelah mendengar komentar saya.

“Demi kebaikanmu, iya.”

“Tapi aku masih sayang dia, Re.”

Saya mengusap kening, dalam. Ayolah, setelah pesan penuh umpatan itu, setelah tangis di malam-malam sepi itu, setelah semua, bagaimana bisa kalimat tadi masih terlintas di kepalanya. Saya melirik arloji. Sudah jam satu malam. Semoga saya salah dengar.

“Oke, gini.”

Andai sedang berhadap-hadapan, tentu dia bisa melihat saya yang menegakkan badan, lalu mengambil napas panjang.

“Masalahnya adalah kamu pake hati terlalu banyak dibandingkan akal. Wajar sih, semua yang lagi jatuh cinta pasti kayak gini, apalagi kamu cewek.”

Saya mengambil jeda. Suara pendingin ruangan mengambil alih. Hembusannya mendinginkan tengkuk, mengetuk kantong mata yang sudah berat.

“Pasangan yang baik itu adalah yang bisa saling improve. Gak cuma salah satu. Aku gak nemuin itu di kasusmu..”

Saya berusaha bicara lebih perlahan. Bukan karena sudah tengah malam, namun berharap dia tidak terlalu tertekan. Saya tersenyum, lalu menariknya lagi, lupa kalau dia tidak bisa melihat saya.

“Jadi gitu ya Re…”

Suaranya menggantung di udara. Seperti anak kecil yang menahan tangis karena sang ibu melarangnya bermain hujan. Petir menggelegar, manusia-manusia berpayung berlarian menghindari genangan. Mendadak si anak mendapat momentum saat sang ibu tenggelam dalam urusan dapur. Ia melompat keluar jendela, berteriak kegirangan melawan keadaan.

“Tapi biasanya dia mau berubah kok Re..”

Astaga.

Apakah cinta adalah cinta ketika ia sulit dilupakan?

**

Dua minggu kemudian saya membaca pesan darinya.

Re, aku belum putus. Aku sayang dia. Dianya juga.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 260 other followers