Jalan-jalan ke Labuan Bajo

Labuan Bajo. Kota berbatas pantai dan pulau-pulau indah di semenanjungnya. Tulisan ini akan membahas perjalanan saya selama 3 hari 2 malam di Labuan Bajo Desember 2017. Kisah akan dibagi per hari, dimana destinasi dan restoran yang saya kunjungi akan diulas satu per satu.

###

Hari ke-1, 23 Desember 2017

Check point: Dili, Atambua, Kupang, Labuan Bajo

Restoran: Mediterraneo, CAFE.IN.HIT Coffee Shop

08.00 – 10.30 Dili – Atambua

Kami (saya dan seorang teman) kebetulan bekerja di Timor Leste, perjalanan panjang kami dimulai dari Dili. Langkah pertama berupa tiga jam perjalanan darat ke border Indonesia di Mota’ain. Kami sampai di perbatasan sekitar jam 11 waktu Indonesia. Mobil kami parkir di pos perbatasan untuk diambil tiga hari kemudian ketika kembali nanti.

Setelah melalui pos imigrasi Timor Leste dan Indonesia, kami menyewa mobil untuk perjalanan ke bandara A. A. Bere Tallo di Atambua. Perjalanan ke bandara memakan waktu 20 menit dengan biaya Rp 200 ribu. Belum jam 12 siang ketika kami tiba di bandara.

16.00 – 17.00 Atambua – Kupang

Seharusnya pesawat ke Kupang take off jam 12.30, tapi kami baru berangkat sekitar pukul 4 sore. Pesawat tidak bisa mendarat karena awan rendah yang menutupi hampir seluruh perbukitan sekitar. Ditambah lagi landasan Bandara Atambua yang terhitung pendek hingga makin mempersulit keadaan. Ini menjadi pembelajaran bagi yang akan travelling di musim penghujan dan menggunakan pesawat baling-baling seperti kami.

Perjalanan juga semestinya hanya 35 menit. Pesawat lama berputar-putar di atas Bandara El Tari Kupang mencari celah mendarat karena cuaca Kupang yang juga tidak mendukung. Akhirnya pesawat mendarat jam 5 sore. Terlambat empat jam dari jadwal seharusnya.

17.30 – 19.00 Kupang – Labuan Bajo

Seharusnya pesawat ke Labuan Bajo terbang jam 3 sore, tapi ternyata pesawat delay juga karena masalah cuaca. Jadi alhamdulillah kami tidak ketinggalan pesawat. Kami hanya 30 menit di Bandara Kupang, hanya sempat keluar pesawat, check in, masuk ruang tunggu dan boarding semua sambil berlarian.

19.00 – 19.30 Bandara Komodo – Hotel Matahari

Setelah cuaca dan delay berjam-jam sejak dari Atambua, kami hampir tidak percaya akhirnya bisa mendarat juga di Labuan Bajo malam itu.

IMG-20180101-WA0054Selayaknya bandara kota kecil lainnya, Bandara Komodo di Labuan Bajo tidak terlalu besar, hanya melayani beberapa penerbangan domestik ke dan dari Jakarta, Denpasar dan Kupang. Kami keluar bandara untuk mencari taksi. Hotel kami berada di deretan hotel dan restoran dekat Pelabuhan Labuan Bajo. Sepertinya tarif dipukul rata 60 ribu rupiah, karena kami membayar tarif yang sama saat pulang dua hari kemudian.

Perjalanan sekitar 15 menit ke tujuan, Hotel Matahari. Sesampai di hotel, kami hanya check in dan menaruh barang. Kami langsung pergi mencari makan malam dan paket tour ke Pulau Komodo keesokan harinya.

20.00 – 23.00 Malam Labuan Bajo

MEDITERRANEO

Kota turis di Labuan Bajo hanya berupa satu ruas jalan yang berisi barisan restoran dan hotel, diselingi pelabuhan di antaranya. Ketika kami disana, turis didominasi dari mancanegara. Sepuluh besar rekomendasi restoran di TripAdvisor juga mayoritas makanan western. Kami memutuskan untuk mencoba restoran cantik yang cukup ramai ketika itu: Mediterraneo.

P_20171223_202947Karena tidak yakin dengan kehalalan restoran, saya memesan kwe tiaw seafood. Restoran Mediterraneo terhitung baik, karena memperhatikan rasa, estetika dan porsi makanan. Estimasi harga sekitar 100 ribu rupiah per orang. Jika berbudget minim tapi ingin mencoba restoran bagus di Labuan Bajo, jangan hanya menghitung harga di menu, karena mereka akan menambahkan 11% tax dalam tagihan makanan kita.

CAFE.IN.HIT

Setelah makan, saatnya cemilan kopi santai. Kami memutuskan ke CAFE.IN.HIT Coffee Shop, kedai kopi dengan rating tertinggi di TripAdvisor.

Kedai kopi lumayan kecil, dengan kapasitas pengunjung tidak sampai 20 orang. Penerangannya juga remang, cocok bagi yang ingin menyepi dari hiruk pikuk restoran lain di luar. Saya memesan mocha dan chocolate banana bread. Mocha nya lumayan enak, pahitnya sedikit berat di coklat bukan di kopi, persis seperti rasa mocha yang saya mau (untuk perbandingan, jika yang pahit coklatnya kuat sekali, coba mocha di Caffe Bene).

Estimasi harga di CAFE.IN.HIT sekitar 30-50 ribu rupiah untuk secangkir kopi dan 10-20 ribu rupiah untuk cemilan kue.

IMG_8276Saya berdua dengan teman ke Labuan Bajo. Di kedai ini kami sibuk dengan ponsel masing-masing, karena suasana cafe yang mendukung untuk diam dan lelah dengan perjalanan seharian.

Jam 10 malam kami pulang sambil mencari paket tour untuk esok hari. Cukup mudah karena ternyata di sepanjang jalan kios tour agent berhimpitan satu sama lain. Mereka menawarkan beragam paket mulai dari sehari pulang pergi, sampai bermalam tiga hari di kapal. Alhamdulillah kami mendapat paket yang cukup murah: 600 ribu rupiah sehari pulang pergi ke empat tujuan, Pulau Padar, Pulau Komodo, Pink Beach, dan snorkeling di Manta Point. Paket sudah termasuk minum, makan siang, sarapan pisang, kopi teh, dan alat snorkeling. Kami diminta berkumpul keesokan harinya jam 5 pagi.

###

 

 

 

 

 

 

Hari ke-2, 24 Desember 2017

Check point: Pelabuhan Labuan Bajo, Pulau Padar, Pulau Komodo, Pink Beach, Manta Point

Restoran: Tree Top, Scooperific La Creperie, Happy Banana, Bookshop

05.30 – 06.00 Pelabuhan Labuan Bajo

Setelah dibekali kotak makan siang dan alat snorkeling dari tour agent, kami digiring ke pelabuhan untuk mencari kapal. Sepagi itu sudah banyak turis di pelabuhan. Ternyata nantinya kita akan disatukan dalam satu kapal dengan penumpang dari tour agent lain. Di kapal kami ada sekitar sebelas orang, hampir separuhnya turis mancanegara. Dan uniknya, karena dari beragam tour agent, harga yang kami bayar juga beragam meski menikmati kapal dan destinasi yang sama.

IMG-20180101-WA0048

Setelah semua penumpang dan makanan sudah rapi, sekitar jam 6 pagi kapal berangkat ke tujuan pertama berjarak hampir tiga jam perjalanan: Pulau Padar.

08.30 – 09.45 Pulau Padar

Memiliki panorama fotogenik dan menjadi destinasi terfavorit di TripAdvisor, Pulau Padar merupakan destinasi wajib bagi turis Labuan Bajo. Pulau Padar berupa gugusan pulau dengan perbukitan yang menyajikan pemandangan laut biru di kanan-kiri. Banyak pengunjung yang hanya naik setengah jalan karena jalur ke puncak bukit memang lumayan jauh. Saya butuh satu jam untuk pulang pergi.

DSC06893

P_20171224_083722

DSC06904Sebaiknya menyiapkan sepatu olahraga saat berlibur ke Labuan Bajo, karena paling tidak di Pulau Padar dan Pulau Komodo kita dituntut untuk berjalan jauh. Saya dan kawan saya menggunakan sandal karena berpikir naik kapal pasti akan basah, untung saja kami bisa bertahan jalan jauh meski kurang nyaman. Botol minum kecil juga sebaiknya disiapkan, karena tour hanya membekali air minum dalam kemasan 1.5 liter. Tidak efisien jika harus membawa botol besar saat jalan-jalan turun dari kapal.

Jika haus, di dermaga Pulau Padar ada yang berjualan kelapa muda seharga 35 ribu per butir.

11.00 – 12.30 Pulau Komodo

Lelah mendaki Pulau Padar, jam 10 pagi kapal bertolak ke Pulau Komodo, atau yang bernama resmi Loh Liang National Park. Perjalanan memakan waktu satu jam dari Pulau Padar.

DSC06933Tahap pertama yang harus dilakukan saat masuk ke kawasan Taman Nasional Komodo adalah membeli tiket masuk. Ada perbedaan cukup signifikan untuk turis asing, dimana mereka membayar sampai 200an ribu rupiah, sedangkan saya hanya membayar 40 ribu rupiah. Tiket belum termasuk biaya ranger (tour guide). Kami harus mengantri cukup lama di loket, karena ternyata petugas sampai harus menyiapkan lima lembar tiket untuk setiap pengunjung.

Ranger menjelaskan sekilas tentang jalur dan larangan-larangan selama trekking di Taman Nasional Komodo, seperti tidak boleh merokok, terpisah dari rombongan, dan buang sampah sembarangan. Kami memilih jalur medium track yang berjarak satu jam perjalanan.

Ada sekitar 3000an ekor komodo yang masih bertahan hidup sampai saat ini. Tapi menurut informasi yang saya dapat sebelumnya, bertemu komodo di tengah perjalanan hanya soal keberuntungan. Tapi alhamdulillah sudah bertemu satu ekor saat kami berjalan tidak sampai lima menit.

P_20171224_112541

 

 

 

 

DSC06926

DSC06917Ada beberapa fakta menarik seputar komodo yang dijelaskan oleh ranger. Seperti sifat komodo yang kanibal bahkan ke sesama saudara sendiri. Setelah bertelur, komodo betina membuat banyak tumpukan lubang serupa disana-sini untuk menyamarkan telurnya dari terkaman komodo lain. Komodo kecil yang baru menetas hidup di pepohonan untuk menghindari menjadi mangsa komodo dewasa. Mereka memakan serangga di ketinggian dan baru turun ke tanah saat berusia 2-3 tahun. Komodo jantan dewasa kerap bertarung satu sama lain saat berebut makanan dan komodo betina.

Kami mengambil jalur perjalanan datar yang banyak dipayungi pepohonan. Di akhir perjalanan, ada dua komodo yang sedang beristirahat jadi memudahkan kami untuk foto berpose di sampingnya. Tanpa disangka, dua komodo lain juga muncul di akhir perjalanan.

IMG-20171224-WA0021Sudah nyaris jam 1 siang ketika kapal kami beranjak ke tujuan berikutnya.

13.00 – 14.00 Pink Beach

 

Bekal makan siang kami lahap dalam perjalanan ke Pink Beach. Agenda utamanya adalah snorkeling. Jadi kapal berhenti di jarak puluhan meter dari pantai, turis diminta berenang sampai ke Pink Beach sembari menikmati pemandangan bawah laut. Tapi ada perahu khusus yang berjalan mondar-mandir dari barisan kapal ke Pink Beach untuk antar jemput pengunjung yang tidak ingin berenang, seperti saya. Tarifnya adalah 20 ribu rupiah untuk perjalanan… 10 detik 🙂

P_20171224_132718Kami hanya sebentar di Pink Beach, tidak sampai satu jam. Gerimis juga mulai turun. Sekitar jam 2 siang, kapal mengarah ke destinasi wisata terakhir: Manta Point.

15.00 – 15.20 Manta Point

Sekitar jam 3 sore kami sampai di Manta Point. Disini kami kembali snorkeling untuk melihat spesies manta yang berbadan pipih lebar dari dekat. Saya bisa melihat beberapa ekor dari atas kapal. Namun suasana terlalu ramai karena ada 3-4 kapal lain yang ikut mendekat. Tidak sampai setengah jam kami disini.

Setelah puas melihat manta, kapal mengarah pulang: Pelabuhan Labuan Bajo.

17.30 Pelabuhan Labuan Bajo

Perjalanan kembali ke Labuan Bajo memakan waktu lebih dari dua jam. Kebanyakan penumpang tidur karena lelah.

DSC06881Kami merapat di pelabuhan sekitar jam 5.30 sore, masih ada waktu satu jam sebelum malam. Kami berdua bergegas mengembalikan alat snorkeling, kemudian pulang ke hotel untuk mandi dan sholat. Agenda wajib kami adalah hunting foto sunset. Setelah diskusi singkat, kami memutuskan untuk ke Tree Top yang tidak jauh dari hotel. Salah satu restoran terbaik di Labuan Bajo untuk merekam matahari terbenam.

18.00 – 23.00 Malam Labuan Bajo

Tree Top

Kota Labuan Bajo membentang menghadap barat, jadi sebenarnya nyaris semua restoran menawarkan panorama sunset. Sayangnya, di beberapa restoran pemandangan laut terhalang pepohonan. Jadi kami sangat hati-hati memilih tempat makan, karena ini sunset terakhir di Labuan Bajo.

Tree Top memang hanya peringkat belasan di TripAdvisor, namun restoran ini menawarkan dek menjorok ke luar, untuk memberikan pemandangan senja yang bersih.

DSC06940

DSC06947Saya memesan menu Indonesia, nasi goreng seafood. Rasanya enak dan porsinya lumayan kenyang, cocok setelah lelah seharian jalan-jalan. Plating makanan tidak serapi di restoran Mediterraneo tempat saya makan malam sebelumnya. Harga sekali makan tidak sampai 100 ribu rupiah per orang, dan sama seperti di Mediterraneo, pengunjung Tree Top juga didominasi turis asing.

Setelah puas makan dan berfoto senja, kami mencari cemilan es krim.

Scooperific La Creperie

Hanya ada satu kedai es krim di Labuan Bajo, jadi tempat ini mudah dicari. Scooperific La Creperie tidak berada dalam list teratas TripAdvisor, saya mendatangi tempat ini karena rekomendasi teman yang sudah pernah berkunjung sebelumnya. Kedai ini menjual home-made gelato, crepes dan waffle. Satu scoop eskrim dibanderol 20an ribu rupiah.

IMG_8419.jpgSaya membeli gelato vanilla, menurut saya rasanya biasa saja. Mungkin karena saya pernah mencicipi gelato yang lebih enak di tempat lain hehe. Tapi tempat ini tetap boleh dicoba di tengah siang terik. Apalagi kedainya tidak mainstream, kecil berkapasitas 5 meja makan dan tertutup tidak menghadap ke laut.

Bookshop

Setelah kenyang makan malam dan cemilan es krim, kami berjalan pulang. Arloji menunjukkan pukul 9 malam, masih terlalu dini untuk menyelesaikan malam di Labuan Bajo. Setelah menyelami deretan restoran di area pelabuhan, kami mencoba berjalan ke arah selatan dari Hotel Matahari. Ternyata disana ada pasar tradisional dengan gerobak nasi goreng di kanan kiri.

Tidak jauh dari restoran La Cucina, saya menemukan harta karun berupa toko buku Bahasa Inggris bekas. Tidak banyak koleksi bukunya, toko kecil itu mungkin hanya menjual tidak sampai 50 buku bekas. Saya membeli The Tale of Desperaux seharga 100 ribu saja.

Happy Banana

Kami melanjutkan perjalanan ke selatan yang ternyata makin sepi dari turis. Hanya ada 2-3 restoran bagus yang namanya pernah direkomendasikan internet. Tanpa disangka, kami menemukan restoran peringkat pertama TripAdvisor: Happy Banana.

Happy Banana menjajakan makanan Jepang. Meski saya lihat pemilik restoran dan nyaris semua pengunjung adalah western. Ya, lagi-lagi kami menjadi turis lokal satu-satunya di sebuah restoran. Karena sudah kenyang, saya hanya memesan herbal tea sambil membaca buku yang baru saya beli. Sedangkan teman saya memesan satu porsi sushi.

Di Happy Banana, harga sekali makan bisa mencapai 150 ribu per orang. Tempatnya remang, tidak terlalu besar dan cukup berisik. Ditambah dengan menu makanan Jepang, restoran ini jelas bukan pilihan tempat saya menghabiskan malam.

Sekitar jam 11 malam kami pulang ke hotel.

###

Hari ke-3, 25 Desember 2017

Check point: Restoran Hotel Matahari, Bandara Komodo Labuan Bajo

Restoran: Blue Marlin, MadeInItaly

08.00 – 08.30 Sarapan di restoran Hotel Matahari

Kami bangun agak siang sebagai kompensasi hari sebelumnya yang begitu melelahkan. Menu sarapan hotel cukup standar, berupa buffet nasi goreng, mi goreng, telur mata sapi, tempe orek, roti tawar, dan minuman kopi teh. Rasa nasi goreng sangat kental dengan bumbu instan, nasinya juga terlalu empuk untuk digunakan sebagai nasi goreng.

Tapi tetap, pemandangan sarapan hotel kami begitu istimewa.

P_20171225_081257.jpg08.30 – 09.30 Blue Marlin

Kami memutuskan untuk mencoba Blue Marlin, letaknya hanya 3-4 bangunan di sebelah hotel. Saya hanya memesan milkshake, sedangkan teman saya memesan sarapan lengkap dengan cemilan manis. Blue Marlin memiliki pemandangan laut yang serupa dengan Hotel Matahari. Harga makan tidak sampai 100 ribu per orang.

Setelah sarapan, kami kembali ke hotel untuk packing.

12.30 – 14.30 MadeInItaly

Setelah check out, kami berencana makan siang di MadeInItaly, restoran peringkat lima di TripAdvisor. Saat itu hari Natal, sebagian besar restoran ternyata tutup. Letak restoran agak jauh kalau berjalan kaki, sebenarnya ada jasa sewa sepeda motor dengan biaya 75 ribu per hari. Tapi karena hanya sebentar kami meminjam motor resepsionis hotel saja.

MadeInItaly menjadi restoran termewah yang pernah kami coba di Labuan Bajo. Interior restoran, ambience, profesionalitas pramusaji, kebersihan dapur, semuanya mempesona. Ditambah dengan rasa makanan dan presentasi plating, bisa dibilang MadeInItaly merupakan salah satu restoran terbaik yang pernah saya kunjungi seumur hidup. Dengan harga fantastis di menu, jika ingin mencoba beberapa makanan, setiap orang bisa merogoh kocek sampai 200 ribu. Tapi itu sebanding dengan pengalaman dan cita rasa yang didapatkan.

Untuk pembuka, kami disuguhi appetizer berupa roti dari adonan pizza (rasanya mirip cakwe), di dalam saus tomat racikan sendiri.

IMG_8448Untuk main course, saya memesan seafood pizza. Teman saya memesan risotto dan cake untuk dessert. Roti pizzanya crunchy dan tipis, dengan topping udang dan mussel di setiap potongan pizza. Karena restoran Italia tidak menyediakan saos botolan, jadi rasa saya tambahkan dari chilli cair yang pedasnya tidak terlalu kuat.

IMG_8451

IMG_8453.jpgAtmosfer restoran yang tenang membuat kami nyaman duduk berlama-lama. Apalagi restoran ini juga terletak jauh dari hiruk-pikuk perkotaan Labuan Bajo. Tidak terasa sudah nyaris jam 3 sore. Kami harus segera ke bandara untuk terbang pulang dua jam lagi.

###

Labuan Bajo. Tempat pelarian manusia-manusia yang jenuh dengan pekerjaan. Terima kasih untuk waktunya Labuan Bajo. Saya akan datang lagi dan lagi.

DSC06937

Semua gambar diambil sendiri oleh penulis dan rekan seperjalanan penulis, Said Abri (Instagram: @saidabri). Untuk menikmati hasil jepretan perjalanan saya yang lain silakan kunjungi Instagram @reanhidayat.

Advertisements